Portal Situs Edukasi SD, SMP dan SMA/SMK Berbasis Internet di Jaringan Luas Nomor #1 di Indonesia

30 Mar 2015

Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu Budha

Akulturasi Budaya Hindu Budha - Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu Buddha banyak sekali peninggalan sejarahnya yang terdapat di Indonesia. Akulturasi Kebudayaan itu sendiri merupakan suatu proses adanya percampuran antar unsur-unsur budaya yang satu dengan budaya yang lain, sehingga terbentuklah kebudayaan yang baru.

Kebudayaan baru yang terbentuk atas percampuran tersebut, masing-masing tidak akan kehilangan ciri khas yang dimilikinya. Untuk dapat melakukan suatu proses akulturasi, masing-masing kebudayaan haruslah seimbang.

Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu Buddha

Beberapa contoh hasil akulturasi antara kebudayaan Hindu-Buddha dengan Kebudayaan Nusantara seperti sebagai berikut.

1. Seni Bangunan

Pada dasarnya, bentuk bangunan candi yang ada di Indonesia adalah bentuk akulturasi antar unsur-unsur kebudayaan Hindu-Buddha dengan unsur budaya Indonesia asli. Bangunan yang terkesan megah, patung perwujudan dewa, serta bagian-bagian candi dan stupa adalah salah satu unsur yang berasal dari India. Salah satu contohnya adalah seperti Candi yang ada di Pulau Jawa tepatnya Magelang, Jawa Tengah, yakni Candi Borobudur.

2. Seni Rupa dan Seni Ukir

Adanya pengaruh dari India juga tentu membawa perkembangan di dalam bidang Seni Rupa, pahat, dan ukir. Hal ini kenyataannya dapat dilihat pada relief-relief atau seni ukir yang dipahat pada bagian dinding candi. Misalkan seperti Relief yang dipahat pada dinding-dinding pagar langkan di Candi Borobudur yang berupa pahatan riwayat sang Buddha.

3. Seni Pertunjukan

Menurut JLA Brandes, Gamelan merupakan salah satu instrumen diantara seni pertunjukan asil yang dimiliki oleh Indonesia sebelum unsur-unsur budaya India masuk. Selama berabad-abad lamanya, gamelan juga mengalami perkembangan dengan masuknya unsur budaya baru baik pada segi bentuk ataupun kualitas.

Macam-macam gamelan itu sendiri dapat dikelompokkan dalam :
  • Chordophones
  • Aerophones
  • Membranophones
  • Tidophones
  • Xylophones

4. Seni Sastra dan Seni Aksara

Masuknya India ke Indonesia membawa pengaruh perkembangan seni sastra yang besar di Indonesia. Seni Sastra pada masa itu ada yang berbentuk prosa dan ada pula yang berbentuk puisi. Berdasar isinya, kesusastraan dikelompokkan menjadi 3, yakni :
  1. Tutur (Pitutur kitab keagamaan)
  2. Kitab hukum
  3. Wiracarita (Kepahlawanan
Bentuk kepahlawanan/wiracarita sangat terkenal di Indonesia. Misal seperti Bharatayuda, yang digubah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.

Karya Sastra yang semakin berkembang terutama yang bersumber dari Mahabharata dan Ramayana ini, memunculkan seni pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan wayang kulit yang ada di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sudah sangat mendarah daging. Isi dan ceritanya banyak yang mengandung nilai-nilai pendidikan. Cerita di dalam pertunjukan wayang ini berasal dari India, akan tetapi, wayangnya asli berasal dari Indonesia.

5. Sistem Kepercayaan

Sejak masa pra aksara, orang-orang di Kepulauan Indonesia sudah mengenali adanya simbol-simbol yang bermakna filosofis. Sebagai salah satu contohnya jika ada orang yang meninggal, di dalam kuburnya disertai dengan benda-benda. Diantara benda-benda itu terdapat lukisan orang yang sedang naik perahu, yang memberikan makna bahwa orang yang telah meninggal rohnya akan melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan yang membahagiakan yakni alam baka. Masyarakat pada waktu itu sudah percaya bahwa adanya kehidupan sesudah mati yakni sebagai roh-roh halus. Maka, roh nenek moyang dipuja oleh orang yang masih hidup (Animisme).

Masuknya pengaruh India kepercayaan terhadap roh halus tidak punah. Misal, dapat dilihat di dalam fungsi candi. Fungsi candi di India adalah sebagai salah satu tempat pemujaan.

6. Sistem Pemerintahan

Setelah datangnya India di Indonesia, dikenal sistem pemerintahan yang sederhana. Pemerintahan di sini yang dimaksud adalah semacam pemerintah pada suatu desa atau daerah tertentu. Rakyat akan mengangkat seorang pemimpin yang sudah tua, arif dan dapat membimbing, memiliki kelebihan tertentu, termasuk di dalam bidang ekonomi, berwibawa, serta mempunyai semacam kesaktian. Hal ini terjadi dengan jelas di Kerajaan Kutai.

Salah satu buktinya adalah misalnya seorang raja harus berwibawa dan dipandang bila sang raja memiliki kekuatan gaib/kesaktian seperti pada pimpinan masa sebelum Hindu-Buddha. Raja tersebut kemudian disembah dan kalau raja itu meninggal, rohnya dipuja-puja.

7. Arsitektur

Bangunan keagamaan berupa candi sangat dikenal pada masa Hindu Budha. Hal ini terlihat jelas di mana pada sosok bangunan sakral peninggalan Hindu, seperti Candi Sewu, Cadi Gedungsongo dan masih banyak. Bangunan pertapaan wihara juga merupakan bangunan yang berundak. Terlihat di beberapa Candi Plaosan, Candi Jalatunda, Candi Tikus dan masih banyak lagi.

Bangunan suci berundak itu sebenarnya telah berkembang dengan subur pada zaman pra aksara, sebagai penggambaran dari alam semesta yang bertingkat. Tingkat paling atas merupakan tempat semayam para roh nenek moyang. Punden berundak itu menjadi sarana khusus persembahyanagan dalam rangka pemujaan terhadap roh nenek moyang.
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!
 
Back To Top