Portal Situs Edukasi SD, SMP dan SMA/SMK Berbasis Internet di Jaringan Luas Nomor #1 di Indonesia

27 Feb 2016

Bentuk-bentuk Sosialisasi : Sosialisasi Partisipatif dan Sosialisasi Represif

Bentuk-bentuk Sosialisasi : Sosialisasi Partisipatif dan Sosialisasi Represif - Bentuk sosialisasi digolongkan menjadi 2 (dua), yakni sistem sosialisasi partisipatif dan bentuk sistem sosialisasi represif.

Bentuk-bentuk Sosialisasi
Bentuk-bentuk Sosialisasi

Bentuk-bentuk Sosialisasi

A. Sosialisasi Partisipatif
Model sosialisasi ini secara telah sadar telah melibatkan orang lain dengan sukarela. Model ini dikembangkan oleh seseorang yang berkeinginan untuk melakukan suatu bentuk komunikasi serta hubungan dengan orang lain tanpa adanya paksaan.

Apabila diuraikan, maka kegiatannya akan sebagai berikut :
  1. Inti kepentingan pada 2 (dua) orang yang saling bersosialisasi satu sama lainnya (unsur kesadaran untuk melakukan komunikasi dan bersosialisasi).
  2. Bentuk sosialisasi merupakan suatu kebebasan yang tidak untuk dipaksakan oleh pihak manapun dan oleh siapapun.
  3. Penghargaan atau sejenis reward muncul di dalam usaha menempatkan orang lain sebagai partnernya.
B. Sosialisasi Represif
Sosialisasi ini berjalan dengan dari 1 (satu) arah dari seseorang kepada orang yang lainnya. Hubungan seperti ini bisa dilihat di dalam suatu pola ataupun hubungan struktural yang ada di dalam suatu organisasi.

Apabila diuraikan, maka kegiatannya sebagai berikut :
  1. Inti kepentingan sosialisasi yang berasal dari 1 (satu) pihak saja, sedangkan pihak yang lain sebagai salah satu akibat dari kegiatan tersebut.
  2. Bentuk sosialisasi merupakan suatu bentuk teguran atau ancaman yang memiliki sifat secara memaksa dan tidak bebas.
  3. Hukuman atas perilaku akan diberikan di dalam sosialisasi pada model ini.
Contoh dari sosialisasi represif ialah orang tua yang memberikan hukuman kepada anaknya yang telah dianggap melakukan pelanggaran atau bahkan aparat kepolisian yang menangkap para pengguna narkoba. Sosialisasi seperti ini pada umumnya menekankan kepada penggunaan hukuman terhadap suatu kesalahan agar pelanggar memiliki kesadarannya kembali atas segala kesalahan yang pernah diperbuat dan memberitahukan kepada pihak lainnya supaya tidak meniru perbuatan para pelanggar tersebut.

Jadi, ada 2 (dua) macam model sosialisasi, yakni partisipatif dan represif. Kedua model ini muncul karena adanya 2 (dua) kepentingan yang saling berbeda. Kedua pola ini menjadi sangat berpengaruh dengan adanya proses sosialisasi, yakni sosialisasi utama (primer), serta sosialisasi tambahan (sekunder).

Proses sosialisasi primer akan berkaitan dengan hal yang bersifat genetis dan khas. Misal, watak seseorang apabila dipahami lebih jauh pasti tak akan jauh dengan kedua orang tuanya. Watak seseorang bisa dibentuk dengan adanya cara meniru keseharian yang sangat dekat dengan mereka, yakni ayah atau ibu.

Watak yang terbentuk tak jauh dari proses pembimbingan yang berasal dari orang tua. Dalam contoh konkritnya merupakan gaya dari berbicara, perilaku keseharian, hingga pada hal-hal yang lainnya. Misal, kebiasaan untuk makan, warna kemeja, dan masih banyak lagi lainnya.

Sosialisasi primer ini memunculkan kebiasaan yang diterima oleh masyarakat dan memiliki nilai keunggulan. Hal ini karena di dalam tahap ini sosialisasi menjadi modal yang kuat untuk melakukan proses yang lebih meluas.

Sosialisasi yang kedua merupakan sosialisasi sekunder. Sosialisasi pada model ini mengharapkan seseorang menjadi bersikap lebih proaktif dalam menjalin suatu relasi (hubungan sosial).

Sosialisasi sekunder berkaitan dengan sikap formal dan non formal. Sosialisasi ini dijalankan secara umum oleh seseorang di dalam masyarakat. Sosialisasi sekunder dibutuhkan bagi seseorang yang ingin memperluas cakrawalanya.

Sosialisasi model ini sangat terkait dengan faktor geografis, biologis, dan ekologis. Misal seseorang yang besar di lingkungan pantai tentu memiliki kebiasaan dalam masyarakat pantai. Watak atau kepribadian orang yang berada di daerah pantai pasti berbeda dengan masyarakat di daerah pegunungan atau pedalaman.

Kedua proses sosialisasi ini begitu saling melengkapi. Watak yang dibentuk di lingkungan sosialisasi primer akan memperkuat tipe seseorang dalam mereka melakukan bersosialisasi secara lebih meluas lagi.

Dari watak ini, tentu akan mendorong munculnya sikap yang mewarnai proses sosialisasi pada waktu yang berikutnya. Sikap ini akan menentukan apakah seseorang akan bersosialisasi atau menolak proses sosialisasi. Seseorang dengan sikap yang sudah terbentuk, nantinya menjadi lebih mudah dalam mewujudkan kebutuhannya dalam bersosialisasi.

Sikap ini menyangkut pemilihan dengan siapa dan di mana seseorang harus bisa menjalin suatu relasi (hubungan). Apabila sikap ini diasah, maka akan menghasilkan pengalaman sosial yang tentu sangat membantu seseorang tersebut dalam menjalani realitas sosial (kenyataannya di dalam masyarakat).

Misal, apabila lingkungan yang menurutnya sesuai bagi seseorang dalam berproses dan orang macam apa yang bisa melakukan sosialisasi. Kebijakan seperti apa yang bisa membuat seseorang menjadi lebih berkembang atau tidak sama sekali, serta hal apa yang bisa membuat seseorang bersosialisasi? Dengan demikianlah, seseorang akan lebih mudah serta dengan nyaman dalam bersosialisasi.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!
 
Back To Top