Portal Situs Edukasi SD, SMP dan SMA/SMK Berbasis Internet di Jaringan Luas Nomor #1 di Indonesia

9 Feb 2016

Cara Manusia Purba Memenuhi Kebutuhan Hidupnya

Cara Manusia Purba Memenuhi Kebutuhan Hidupnya - Semasa hidup manusia purba, sebenarnya bagaimanakah sistem kehidupan mereka? Bagaimana bisa mereka mendapatkan makanan? Dengan cara apa?

Dan, sebenarnya, di manakah tempat yang bisa mereka tinggali? Berdasarkan dengan corak kehidupannya, zaman pra aksara ini bisa dibagi menjadi 3 (tiga) periode.

A. Masa Berburu dan Meramu

Masa berburu dan meramu
Sumber : pendidikanmu.com

Masa berburu dan meramu merupakan masa paling awal bagi manusia dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Ketersediaan kebutuhan hidup yang diberikan oleh alam menjadi sumber utama bagi kehidupan mereka.

Meramu memiliki arti yakni mencari dan mengumpulkan makanan serta menangkap bnatang. Dalam kegiatan meramu, mereka senang mengumpulkan bahan makanan enak yang bisa dimakan/disantap secara langsung.

Sesuai dengan cara hidupnya, manusia purba akan berpindah tempat dari 1 (satu) tempat ke tempat yang lainnya. Mereka meninggalkan tempat tersebut dengan membawa alasan, yakni karena bahan makanan di tempat yang mereka tinggalkan itu sudah habis, dan ingin mencari lagi di tempat yang lainnya.

Kehidupan manusia purba pada masa itu juga seringkali hidup dengan cara berkelompok, mereka senang bergerombol di tempat-tempat yang menyediakan banyak bahan makanan dan air.

1. Mencari dan Mengumpulkan Makanan (Food Gathering)
Manusia pra aksara pada awalnya hanya memenuhi kebutuhan hidupnya hanya dengan mencari makanan serta mengumpulkan makanan. Mereka masih belum mengenal bercocok tanam, apalagi tempat tinggal.

Makanan yang dikumpulkan oleh manusia purba, bisa berupa :
  • Ubi-ubian
  • Buah-buahan
  • Keladi
  • Daun-daunan
Bahan makanan yang telah dikumpulkan tidaklah dimasak terlebih dahulu, akan tetapi langsung dimakan karena pada waktu itu, manusia masih belum mengenal api untuk memasak.

Mereka menggunakan alat berburu dari ketersediaan alam juga, seperti kayu, batu, atau tulang hewan yang telah mati. Alat-alat yang digunakan masih sangat sederhana, serta kasar.

Pada masa food gathering ini, manusia purba sangat sulit sekali untuk berevolusi, karena mereka terus-terusan hanya dipaksa untuk mencari kebutuhan pokok setiap harinya. Akan tetapi, secara perlahan, manusia purba mengalami perkembangan akal dan mulai beralih ke food producing.

Ciri-ciri masa food gathering adalah dengan menetapnya di suatu gua, kebanyakan senjatanya masih terbuat dari bebatuan dan tulang, serta hidup dengan cara berburu binatang.

2. Hidup Berkelompok
Pada umumnya, manusia purba itu sendiri hidup dengan cara berkelompok. Mereka lebih memilih tempat yang memiliki banyak bahan makanan dan air.

Padang rumput dan hutan yang berdekatan dengan sungai, lebih mereka pilih sebagai tempat hidup berkelompok. Tempat tersebut dipilih karena tersedia banyak bahan makanan dan dilewati/dilalui oleh binatang buruan.

Manusia purba selalu hidup dengan berkelompok yang anggotanya bisa berjumlah antara 20 hingga 50 yang terdiri atas 1 (satu) atau 2 (dua) keluarga. Tujuan dari hidup berkelompok ini guna menghadapi binatang buas dan bisa saling membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup.

3. Bertempat Tinggal Sementara
Pada perkembangannya, sebagian manusia purba ada yang mulai untuk bertempat tinggal dengan cara hanya sementara. Mereka biasanya tinggal di gua, tepi danau, ataupun di ceruk di tepi pantai. Tempat-tempat tersebut mereka gunakan untuk berteduh dan menimbun segala bahan makanan.

Hal ini karena manusia purba memiliki kemampuan bertahan hidup dengan masih bergantung pada alam, dengan kata lain jika di tempat berburu mereka sudah kurang banyak mendapatkan hasil buruan, maka mereka akan berpindah ke tempat yang baru.

Hal tersebut memang terjadi karena pada masa itu, bercocok tanam dan beternak belum diterapkan oleh manusia purba.


B. Masa Bermukim dan Bercocok Tanam

Masa bermukim dan bercocok tanam
Sumber : indonetedu.blogspot.com

Melalui pengalaman hidupnya, manusia purba mulai bisa menemukan cara baru untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka menemukan cara dalam bercocok tanam. Seiring dengan masa bercocok tanam, mereka mulai hidup dengan cara menetap.

Kebudayaan lainnya juga ikut serta berkembang dengan pesat. Alat pertanian berkembang semakin maju. Begitu pula dengan sistem sosial dan sistem kepercayaan, mulai terbina dengan teratur.

Masa bermukim dan masa bercocok tanam ini sering disebut dengan masa revolusi kebudayaan. Hal ini berdasarkan pada terjadinya perubahan yang besar di dalam berbagai corak kehidupan manusia purba.

Pada kebudayaan manusia purba, masa ini juga menandai dimulainya zaman Neolithikum (zaman batu baru). Pendukung utama dalam kebudayaan ini adalah manusia Homo Sapiens. Jenis manusia ini sering disebut dengan nama "si cerdas", karena sudah mampu menggunakan akal pikiran dengan sempurna.

Manusia purba di masa ini mulai menanam jenis tanaman yang sekiranya bisa menghasilkan bahan panganan. Mereka juga melakukan kegiatan berladang. Untuk mengembangkan kegiatan berladang, manusia mencoba membuka ladang-ladang yang baru.

Pada awalnya, mereka menebang atau membakar pohon-pohon serta semak belukar yang terdapat di hutan sekitarnya. Dengan cara seperti itulah, menjadi tercipta ladang-ladang baru yang siap untuk ditanami.

Di samping kegiatan berladang, manusia purba juga masih berburu binatang dan menangkap ikan. Semakin lama, mereka semakin mengenal apa yang dinamakan dengan beternak. Perkembangan ini jelas, jika manusia sudah tak lagi semata-mata tidak bergantung lagi kepada alam.

Manusia purba sudah bisa mengusahakan dan bisa menghasilkan bahan makanannya sendiri, dengan cara bercocok tanam dan beternak.

1. Kehidupan Bermukim dan Berladang
Manusia purba mulai mencoba kegiatan berladang dengan cara membakar hutan untuk dijadikan ladang yang baru. Mereka juga melakukan kegiatan dengan cara berburu dan menangkap ikan serta kegiatan beternak.

Hewan yang diternakkan, antara lain, kerbau, sapi, kuda, babi ataupun unggas.

Pada tahap ini, manusia tidak lagi bergantung pada alam. Mereka sudah mulai mencoba mengusahakan dan menghasilkan bahan makanan sendiri, dengan bercocok tanam dan beternak, yang biasa disebut dengan food producing.

Dalam masa bermukim dan berladang, dibuat juga alat-alat seperti contohnya mata panah, yang bisa dgunakan untuk alat berburu, gerabah sebagai peralatan hidup, hingga alat-alat pemukul kulit kayu serta perhiasan.

2. Kehidupan Bercocok Tanam di Persawahan
Jumlah penduduk food producing menjadi semakin meningkat, ini juga menimbulkan kepada jenis tanaman yang ditanam juga menjadi semakin bertambah.

Padi jenis "gogo" yang biasa ditanam di tanah kering juga mulai dikembangkan. Mereka mulai mengenal cara membuat pematang-pematang untuk menahan air serta saluran air.

Di daerah pegunungan, dibuatlah sawah-sawah yang berundak dilengkapi dengan saluran air yang merupakan irigasi tingkat permulaan yang dibuat menjadi tanaman pokok.

Tanaman sayur-sayuran juga mulai lebih dikenal, yang lebih menariknya lagi adalah mulai dikenalnya padi di persawahan. Hal ini menunjukkan jika perkembangan di bidang pertanian yang sudah semakin maju.
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!
 
Back To Top