Portal Situs Edukasi SD, SMP dan SMA/SMK Berbasis Internet di Jaringan Luas Nomor #1 di Indonesia

22 Feb 2016

Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian Seseorang

Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian Seseorang - Kepribadian atau sifat kekhasan dari seseorang sangatlah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang akan membentuk suatu kebudayaan. Faktor-faktor yang memiliki peran dalam pengembangan kepribadian seseorang meliputi beberapa faktor sebagai berikut.

Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian Seseorang
Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian Seseorang

Faktor Pembentuk Kepribadian Seseorang

A. Faktor Lingkungan Fisik
Faktor lingkungan fisik ini mencakup dalam faktor geografis, iklim, suhu, kesuburan tanah, dan arah mata angin. Pengaruh dari faktor fisik ini begitu besar bagi suatu perkembangan seseorang. Perilaku seseorang menjadi sangat mudah untuk dipengaruhi oleh lingkungannya.

Seseorang yang berasal dari daerah yang memiliki cuaca yang dingin tentu memiliki perilaku yang berbeda jika dibandingkan seseorang yang berasal dari daerah tropis. Sebagai salah satu contohnya, kebiasaan minum wedang jahe di daerah dingin seperti di wilayah Bandung.

Sementara itu, kepribadian orang yang hidup di pegunungan dengan kehidupan cenderung pertanian, tentu akan berbeda dengan kepribadian orang yang hidup di tepi pantai sebagai nelayan.

Upaya penyesuaian diri dengan lingkungan fisik ini berdampak kepada kepribadian seseorang. Lingkungan fisik yang keras, akan membentuk kepribadian yang kuat pula, karena mereka memperjuangkan lingkungan alam yang keras dalam mempertahankan hidupnya.

B. Faktor Lingkungan Sosial Budaya
Faktor lingkungan sosial budaya ini dipengaruhi oleh adanya kelompok di dalam masyarakat tersebut. Di dalam kelompok, orang akan mendapatkan pengalaman sosial serta budaya.

Hal ini tentu akan mempengaruhi seseorang dalam cara mereka bersikap serta dalam cara mereka bertindak. Pengalaman budaya yang dialami oleh seseorang tentu tidak akan pernah sama.

Kebudayaan menyediakan seperangkat pengaruh umum yang berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya.

Pengalaman budaya akan sangat membantu seseorang berkembang dalam bersosialisasi. Faktor ini membuat manusia lebih memahami orang lain dari sisi kultural sehingga hal ini bisa mengurangi konflik yang ada di masyarakat.

Sebagai contohnya, di dalam lingkungan masyarakat yang plural (jamak atau beragam) sangat rentan terhadap yang namanya konflik. Masalah kecil saja bisa memicu terjadinya suatu konflik. Seseorang yang tidak mengenal budaya dari wilayah lain akan menganggap budaya yang dimilikinya pasti selalu benar.

Kebanyakan orang yang berasal dari lingkungan keras akan memiliki perasaan lebih terbuka dan memiliki perilaku atau watak yang keras pula. Ini merupakan contoh konkrit dari pengaruh lingkungan sosial budaya.


C. Faktor Keturunan atau Waris
Secara fisik ataupun secara biologis, apapun warna kulitnya, seberapa besar harta warisan yang dimilikinya, pasti nantinya akan berpengaruh pada sikap atau perilaku seseorang.

Misalnya, jika seseorang yang dilahirkan dalam situasi yang tidak ideal secara fisik, tentu akan mencari cara agar fisiknya menjadi ideal atau terlihat menjadi lebih baik.

Jadi, jika dibuat suatu kesimpulan, orang yang seperti ini memiliki daya juang dan kreativitas lebih tinggi dari orang normal. Faktor keturunan atau waris juga bisa mempengaruhi perkembangan seseorang dalam cara mereka berteman selain secara fisiknya saja.

Artinya, hasil warisan dari orang tua yang diberikan kepada anaknya juga akan mempengaruhi status sosial dari anak tersebut. Anak yang mendapatkan warisan akan bergaul dengan orang yang memiliki status sosial sama.

D. Pengalaman yang Unik
Apabila pengalaman ini sering masuk ke dalam diskusi siswa atau diskusi keluarga, akan memiliki pengaruh yang positif atau perubahan ke arah yang baik. Suasana tertekan tidak akan muncul sehingga kepribadiannya cenderung menjadi lebih menyenangkan, hangat, serta membantu orang lain dalam memecahkan masalah.

Pengalaman seseorang tentu tidak bisa disamakan dengan orang lain meskipun mereka melakukan kegiatan yang sama. Perbedaan inilah yang disebut suatu pengalaman yang sungguh unik.

Sedangkan menurut Paul B. Horton memiliki pengertian jika tidak seorangpun mengalami serangkaian bentuk pengalaman yang persis satu sama lainnya, juga tidak seorangpun memiliki latar belakang pengalaman yang sama.

Mengapa unik? Karena pengolahan dari hasil pengalaman tersebut hanya dimiliki oleh seseorang secara individu saja. Dengan demikian, pengalaman unik akan muncul.

E. Sifat-sifat Kecenderungan
Faktor sifat-sifat akan adanya kecenderungan meliputi beberapa hal, sebagai berikut :
  1. Agamis Religius. Sikap ini lebih mengutamakan kepentingan rohaniah yang didasari oleh pengalaman-pengalaman pribadinya tentang agama. Dengan demikian, semua kegiatan diri ditujukan kepada suatu kegiatan keagamaan.
  2. Sosial Estetis. Sifat kerja yang terjadi antara hubungan manusia ini lebih mengedepankan sifat rapi, indah, dan sopan dalam berhubungan dengan orang lain.
  3. Dinamis Inovatif. Sikap ini merupakan sikap yang dimiliki oleh seseorang yang selalu ingin mengadakan perubahan di dalam hidupnya. Selain itu, selalu mencari pembaruan untuk memperbaiki sistem sosial masyarakat.

Kelima faktor yang tertera di atas bisa berjalan dalam pembentukan karakter apabila melalui dari 4 (empat) tahapan dalam pembentukan kepribadian.

Tahapan Pembentukan Kepribadian

A. Tahap Persiapan
Di dalam tahap ini, setiap individu mengenal lingkungannya secara minim. Pemahaman yang hanya berdasar pada sesuatu yang telah ia pahami secara ilmiah.

B. Tahap Meniru
Di dalam tahapan ini, setiap individu mulai untuk menirukan gerak dan kegiatan yang dilakukan oleh orang lain. Di tahap ini juga mulai dikenalkan suatu sistem penerimaan atau respon atas stimulus (rangsangan) dari orang lain. Rangsangan ini bisa berupa gerak, tutur kata, dan cara berpikir.

Apabila seseorang menirukannya, berarti sudah berjalan tanggapan yang ada pada dirinya. Pada tahap ini juga muncul hukum reward dan punishment.

Apabila kita meniru orang lain dan berhasil dengan baik, maka kita akan mendapatkan penghargaan atau yang dinamakan dengan reward. Sebaliknya, apabila kita tidak relevan dengan keadaan yang ada di sekitar, kita akan mendapatkan suatu hukuman atau celaan yang dinamakan dengan punishment, baik itu secara moral maupun material.

C. Tahap Tindakan
Tahap ini muncul dengan ditandai mulainya manusia mengenal lebih luas tentang individu yang sama. Seusia dengan dirinya, 1 (satu) hobi dengan dirinya, atau 1 (satu) komunitas dengan dirinya.

Individu yang berada di tahap ini sudah mulai mengenal dengan baik dan memahami aturan, norma, dan perilaku masyarakat yang ada di sekitarnya. Hal ini justru sangat membantu individu tersebut untuk semakin lebih memahami dirinya di tengah lingkungan yang luas. Jadi, seorang individu mulai mengenal begitu banyak pilihan yang bisa ia jalani.

D. Tahap Penyadaran Diri
Di dalam tahapan ini, semua proses interaksi seseorang dilaksanakan dengan penuh kesadaran tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.

Pada tahapan ini, interaksi semakin lebih sering terjalin dengan pemahaman yang proaktif. Dalam hal ini memiliki arti, tidak ada saling tuntut dan meminta di antara pelaku interaksi. Akan tetapi, didasarkan pada suatu kontribusi (sumbangan) pribadinya kepada kelompok tersebut.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!
 
Back To Top