Portal Situs Edukasi SD, SMP dan SMA/SMK Berbasis Internet di Jaringan Luas Nomor #1 di Indonesia

8 Feb 2016

Jenis-jenis Manusia Purba di Indonesia dengan Ciri-ciri, Penemu dan Tempat Penemuannya

Jenis-jenis Manusia Purba di Indonesia dengan Ciri-ciri, Penemu dan Tempat Penemuannya - Kehidupan manusia sebelum mampu mengenal tulisan sering disebut dengan zaman praaksara, seperti mengenai hewan-hewan serta manusia purba.

Bagaimana perkembangan jenis manusia purba yang ada di Indonesia? Apakah bentuk serta kehidupan mereka sama dengan bentuk dan kehidupan manusia di zaman sekarang ini?

Ternyata, jawabannya tidak!
Bentuk dan kehidupan manusia di masa praaksara tidak begitu sama persis dengan kehidupan manusia pada zaman sekarang.

Para ahli membagi jenis manusia purba di Indonesia menjadi 3 (tiga)! Pembagian ini berdasar dari hasil penemuan fosil manusia purba.

Ketiga jenis dari manusia purba tersebut yang terdapat di Indonesia ialah :
  1. Meganthropus
  2. Pithecanthropus
  3. Homo
Lantas, bagaimana ciri-ciri dari ketiga jenis manusia purba tersebut?

A. Meganthropus (Manusia Besar)

Meganthropus Paleojavanicus
Meganthropus Paleojavanicus, sumber : gurusejarah.com

Meganthropus berasal dari 2 (dua) kata, yakni Megas yang berarti "besar/raksasa" dan Anthropus yang berarti "manusia".

Penemu : Von Koenigswald, pada tahun 1936
Tempat Penemuan/Tempat Ditemukannya : Daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah
Tahun : 1936

Hasil penemuannya ini sering dikenal dengan nama Meganthropus Paleojavanicus, yang memiliki arti "manusia raksasa dari Jawa". Jenis dari manusia purba ini memiliki rahang yang kuat dengan badan yang tegap.

Mereka diperkirakan hidup dengan cara mengumpulkan bahan makanan, terutama tumbuh-tumbuhan. Meganthropus diperkirakan hidup sekitar 2 hingga 1 juta tahun yang lalu sejak penelitian.

Ciri- ciri :
  1. Memiliki tulang pipi yang tebal
  2. Memiliki otot kunyah yang kuat
  3. Memiliki tonjolan kening yang mencolok
  4. Memiliki tonjolan belakang yang tajam
  5. Tidak memiliki dagu
  6. Memiliki perawakan yang tegap
  7. Memakan jenis tumbuh-tumbuhan
Fosil dari manusia purba ini merupakan fosil manusia purba yang tertua yang pernah ditemukan di Indonesia. Penemu fosil ini, Van Koenigswald yang menemukan fosil berupa rahang atas yang giginya lepas dan rahang bawah.

Fosil Meganthropus Paleojavanicus ini dikatakan sebagai salah satu fosil manusia purba paling primitif.

Sebelumnya, penelitian manusia purba di Indonesia ini dipelopori oleh Eugene Dubois yang berasal dari Belanga, Ny. Selenka, Ter Haar, Oppenoorth serta Von Koenigswald.

B. Pithecanthropus (Manusia Kera Berjalan Tegak)

Pithecanthropus Erectus
Pithecanthropus Erectus, sumber : id.wikipedia.org

Pithecanthropus merupakan jenis manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Hasil penemuan di Indonesia antara lain :
  • Pithecanthropus Erectus
  • Pithecanthropus Mojokertensis
  • Pithecanthropus Soloensis
Penemu Pithecanthropus Erectus : Eugene Dubois
Tempat Penemuan/Tempat Ditemukannya : Trinil, Ngawi, Jawa Timur
Tahun : 1891

Penemu Pithecanthropus Mojokertensis : Von Koenigswald
Tempat Penemuan/Tempat Ditemukannya : Jetis, dekat Mojokerto, Jawa Timur

Penemu Pithecanthropus Soloensis : Von Koenigswald, Ter Haar, dan Oppenoorth
Tempat Penemuan/Tempat Ditemukannya : Ngandong, lembah Bengawan Solo

Ciri-ciri :
  1. Memiliki tinggi badan sekitar 165 - 180 cm
  2. Volume otak berkisar antara 750 - 1350 cc
  3. Bentuk tubuh dan anggota badan tetap, akan tetapi, tidak setegap Meganthropus
  4. Alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat
  5. Bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat
  6. Bentuk tonjolan kening tebal melintang di dahi dari sisi ke sisi
  7. Bentuk hidung tebal
  8. Bagian belakang kepala tampak menonjol menyerupai wanita berkonde
  9. Muka menonjol ke depan, dan dahi miring ke belakang
  10. Pemakan tumbuhan dan daging
Fosil Pithecanthropus Erectus ini yang ditemukan berupa tulang rahang bagian atas tengkorak, geraham, dan tulang kaki. Fosil ini ditemukan saat masa kala Pleistosen Tengah.

Eugene Dubois tidak berhasil mengambil fosil dari Pithecanthropus dengan jumlah yang banyak melainkan hanya tempurung tengkorak, tulang paha atas dan 3 (tiga) giginya saja.

Untuk mendapatkan makanan, Pithecanthropus menggunakan alat-alat yang berasal dari batu atau kayu yang telah dipungutnya. Meski telah menggunakan alat-alat dari batu serta kayu dan memakan apapun yang terdapat di alam (tumbuhan dan hewan), akan tetapi, tidak ditemukan adanya tanda-tanda jika makanan Pithecanthropus tersebut sudah diolah dan dimasak terlebih dahulu sebelum dimakan.

Beberapa contoh alat dari batu yang pernah digunakan oleh Pithecanthropus misalnya, kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, pahat, genggam, dan alat-alat serpih. Alat ini banyak ditemukan di daerah Pacitan, Jawa Timur.

Kehidupan Pithecanthropus Erectus sangat bergantung pada sumber alam yang sudah tersedia. Mereka juga berburu, mengumpulkan makanan serta hidupnya juga berpindah-pindah untuk mengikuti pengembaran hewan-hewan buruannya atau untuk mencari sumber makanan yang ada di tempat lain.

C. Homo

Homo Soloensis
Homo Soloensis, sumber : brainly.co.id

Terdapat 2 (dua) jenis fosil homo yang ditemukan di Indonesia, yakni Homo Wajakensis dan Homo Soloensis.

Homo Wajakensis memiliki arti manusia yang berasal dari Wajak.

Penemu Homo Wajakensis : Eugene Dubois
Tempat Penemuan/Tempat Ditemukan : dekat Wajak, Tulungagung, Jawa Timur
Tahun : 1889

Wajakensis ini sendiri diperkirakan menjadi nenek moyang dari Ras Australoid yang merupakan penduduk asli Australia.

Homo Soloensis memiliki arti manusia yang berasal dari Solo.

Penemu Homo Soloensis : Ter Haar dan Oppenoorth
Tempat Penemuan/Tempat Ditemukan : Ngandong, lembah Bengawan Solo
Tahun : antara tahun 1931 - 1934

Kehidupan Homo Soloensis sudah lebih maju dengan adanya berbagai macam alat untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup dari berbagai macam ancaman.

Ciri-ciri :
  1. Volume otak berkisar antara 1000 - 1200 cc
  2. Tinggi badan antara 130 - 210 cm
  3. Otot tengkuk mengalami penyusutan
  4. Muka tidak menonjol ke depan
  5. Berdiri tegak dan berjalan lebih sempurna
Hom Soloensis diperkirakan hidup sekitar 900.000 sampai 300.000 tahun yang lalu.

Menurut Von Koenigswald, makhluk ini lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan Pithecanthropus Erectus. Oleh sebagian para ahli, Homo Soloensis ini digolongkan dengan Homo Neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo Sapiens dari Asia, Eropa, dan Afrika yang berasal dari lapisan Pleistosen Atas.

Hasil dari budaya manusia Homo Soloensis ialah kapak genggam/kapak perimbas, alat serpih, alat-alat tulang, dan alat-alat zaman dahulu.

Homo sapiens dan Homo wajakensis kemudian mengalami perkembangan. Jenis dari homo ini diberi nama Homo Sapiens. Homo Sapiens lebih sempurna dilihat dari cara berpikirnya walaupun masih sangat sederhana.

Homo Sapiens berarti manusia yang cerdas, diperkirakan hidup 40.000 tahun yang lalu setelah penelitian. Jenis inilah yang nantinya menjadi nenek moyang dari Bangsa Indonesia.
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!
 
Back To Top