Portal Situs Edukasi SD, SMP dan SMA/SMK Berbasis Internet di Jaringan Luas Nomor #1 di Indonesia

20 Feb 2016

Penggolongan Interaksi Sosial : Proses Asosiatif, Disosiatif, Oposisi dan Diferensiatif

Penggolongan Interaksi Sosial : Proses Asosiatif, Disosiatif, Oposisi dan Diferensiatif - Interaksi sosial merupakan suatu bentuk fondasi dari hubungan yang bisa berupa suatu tindakan berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam lingkungan masyarakat.

Dengan adanya nilai dan norma yang diterapkan dan diberlakukan, interaksi sosial itu sendiri bisa berlangsung dengan baik apabila aturan-aturan dan nilai-nilai yang ada bisa dilakukan pula dengan baik. Jika tidak ada kesadaran akan pribadi masing-masing, maka proses sosial tidak akan bisa berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.

Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya hubungan antara satu dengan yang lainnya, ia akan selalu memerlukan untuk mencari individu atau kelompok yang lain untuk bisa berinteraksi atau saling bertukar pikiran.

Dengan kata lain, jika tidak ada komunikasi atau interaksi yang terjalin antara satu sama lain, maka tidak akan mungkin kehidupan bersama. Jika hanyalah fisik saya yang saling berhadapan satu sama lain, tidak akan bisa menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang bisa saling berinteraksi.

Sementara itu, Interaksi sosial bisa digolongkan menjadi proses asosiatif, disosiatif, oposisi dan diferensiatif.

Penggolongan Interaksi Sosial
Penggolongan Interaksi Sosial, sumber : paper-makalah.blogspot.com

A. Proses Asosiatif

Proses asosiatif merupakan proses interaksi sosial yang mengarah ke dalam kerja sama dan persatuan. Proses asosiatif ini sendiri dibagi menjadi 4 (empat) kategori, yakni kooperasi, akomodasi, asimilasi dan akulturasi.

1. Kooperasi
Kooperasi adalah bentuk kerja sama antar warga negara dalam menjalankan kegiatannya secara bersama. Tujuan dari kegiatan kooperasi ini adalah untuk memajukan masyarakat. Kooperasi dalam masyarakat bisa berupa kerja bakti, baik dalam bidang politik yang dilakukan dengan istilah koalisi.

Koalisi adalah bentuk kerja sama antara 2 (dua) atau lebih partai politik dan membentuk 1 (satu) fraksi/kekuatan politik yang baru. Di bidang ekonomi, terdapat istilah merger, yakni bergabungnya 2 (dua) atau lebih perusahaan menjadi 1 (satu) perusahaan yang baru.

Di bidang politik, kooperasi bisa terjadi di antara pihak-pihak yang menghadapi lawan atau musuh yang sama. Memiliki lawan atau musuh yang sama inilah yang menjadikan alasan bagi mereka untuk mendorong menjadi bersatu.

Apabila kooperasi di antara beberapa pihak membawa mereka ke dalam suatu keberhasilan, rasa saling tertarik antara pihak-pihak tersebut akan semakin meningkat.

Kelompok etnis, seperti halnya kelompok-kelompok sosial yang lainnya, seringkali terlibat dalam persaingan maupun kooperasi.

2. Akomodasi
Proses akomodasi adalah bentuk proses yang terjadi di dalam masyarakat yang ada di sekitar kita untuk berusaha dalam menjalankan norma yang berlaku. Norma merupakan aturan-aturan yang terdapat di dalam masyarakat dalam bentuk yang tidak tertulis. Norma biasanya dibuat berdasarkan kesepakatan lingkungan tertentu.

Setelah norma mampu dijalankan oleh masyarakat, harapannya norma tersebut akan dipahaminya pula oleh masyarakat. Tujuannya, agar tidak timbul pertikaian atau konflik yang terjadi akibat kesalahpahaman dengan norma tersebut atau bisa juga pelaksanannya yang terpaksa.

Di dalam akomodasi, terdapat istilah koersi, kompromi, mediasi, konsiliasi dan adjudikasi. Koersi adalah akomodasi yang dipaksakan. Kompromi adalah meneyelesaikan suatu konflik dengan cara jalan tengah dan tidak merugikan pihak yang tengah berkonflik. Mediasi adalah penyelesaian masalah dengan cara menghadirkan pihak ketiga guna membantu menyelesaikannya. Konsiliasi adalah menyelesaikan permasalahan dengan dialog. Adjudikasi adalah menyelesaikan masalah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Proses dari akomodasi memiliki manfaat yang bisa kita ambil, yakni meredakan konflik dan mengusahakan persatuan.
  1. Meredakan konflik. Usaha dalam meredakan konflik di dalam masyarakat sangatlah diutamakan agar kerukunan tetaplah terjalin. Meski demikian, bukan berarti konflik tersebut salah. Konflik dibutuhkan untuk mengoreksi ide atau kebijakan. Konflik menjadi negatif jika pelaku konflik tidak menggunakan akal sehat dan cenderung menggunakan kekuatan massa. Konflik model inilah yang justru salah dan bertentangan dengan hukum dan norma Indonesia.
  2. Mengusahakan persatuan. Persatuan yang diusahakan bisa berupa penyatuan dan penggabungan pendapat ataupun ide yang berasal dari berbagai individu. Dengan demikian, tidak akan terjadi perpecahan di kalangan masyarakat. Perpecahan bisa disebabkan oleh banyak faktor. Faktor rentan yang menyebabkan perpecahan ialah faktor keyakinan serta faktor ekonomi. Faktor ekonomi menjadi begitu sangat rentan apabila terjadi celah perekonomian yang begitu nampak (jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin). Faktor ekonomis menjadi salah satu faktor yang sangat sensitif jika tidak ditangani secara serius.

3. Asimilasi
Proses asimilasi adalah proses interaksi yang terjadi pada 2 (dua) kelompok masyarakat yang keduanya melebur untuk menghilangkan perbedaan dalam mewujudkan persatuan. Proses ini sering terjadi karena kedua belah pihak merasa ingin berkembang bersama tanpa mempermasalahkan perbedaan yang ada.

Syarat terjadinya asimilasi adalah jika timbul perbedaan ciri khas di antara 2 (dua) kelompok.

Proses asimilasi bisa dibantu dengan adanya perkawinan antar kelompok toleransi, sikap yang terbuka, dan sedikit persamaan unsur kebudayaan.

  • Faktor Pendorong
    • Tingkat toleransi masyarakat yang tinggi. Tingkat tolerasi tinggi karena masyarakat lebih terbuka dengan keadaan sosial yang ada di sekitarnya.
    • Memiliki beragam persamaan peristiwa sejarah di dalam suatu wilayah.
  • Faktor Penghambat
    • Toleransi yang rendah karena masyarakat terisolasi dari pengaruh perkembangan zaman.
    • Adanya perasaan was-was atau curiga. Perasaan ini muncul disebabkan pihak lain tidak mengalami peristiwa sejarah yang sama sehingga nilai-nilainya berbeda.

4. Akulturasi
Akulturasi merupakan proses sosial yang terjadi karena pertemuan 2 (dua) kebudayaan secara berkesinmabungan. Pertemuan ini nantinya akan menghasilkan ciri tertentu dan masih meninggalkan ciri yang asli setiap kelompok budaya.

Kita tentu pernah melihat atau bahkan mendengar, baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung tentang ornamen candi beserta dengan reliefnya. Bentuk ornamen dan relief tersebut yang dinamakan dengan akulturasi.

Lalu, akulturasinya terletak di bagian mana?

Jawabannya, akulturasi tersebut terletak apda seni pahat relief dan struktur bangunan candi. Bangunan candi yang ada di Indonesia adalah khas Indonesia yang telah ada sebelum Hindu masuk ke Indonesia. Seni pahatnya yang murni asli dari Indonesia, hanya saja ceritanya yang menggunakan dasar epos Ramayana dan Mahabarata yang berasal dari India.

Contoh, Sunan Kalijaga melakukan siar Islam di pesisir utara Pulau Jawa hingga ke daerah Demak Bintoro (Jawa Tengah sekarang). Beliau juga menggunakan konsep wayang agar masyarakat menjadi lebih mudah dalam mencerna makna dan setiap isi dari ajaran-ajarannya.

Akulturasi akan dipandang positif apabila kita selektif dalam menerima akulturasi dan tidak asal memadukannya saja. Pedomannya ialah nilai yang terseirat di dalam kebudayaan asing tidak bertentangan dengan kebudayaan yang ada di Indonesia.


B. Proses Disosiatif

Proses disosiatif merupakan proses interaksi sosial yang mengarah ke dalam perpecahan antar masyarakat. Proses disosiatif merupakan proses interaksi yang dijalankan dalam bentuk persaingan, kontroversi, serta pertentangan.

Proses disosiatif ini lahi karena adanya pertentangan yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan. Artinya, perbedaan tentang ide dan perbedaan persepsi serta tidak ditemukannya jalan keluar bagi pihak-pihak yang saling berinteraksi.

Sangat wajar apabila terjadi perbedaan pada kondisi masyarakat yang banyak.

Mengapa bisa dikatakan sebagai suatu hal yang wajar? Karena setiap pribadi yang berasal dari lingkungan berbeda akan memiliki pertimbangan berbeda pula.

Misal, jika salah satu teman kita berasal dari daerah lain, pasti memiliki kebiasaan yang berbeda. Jika kita menyikapinya secara terbuka dan menerima semua teman dengan lapang dada dan apa adanya, maka perpecahan tidak akan pernah terjadi.

Apabila kita menganggap kebiasaan orang lain adalah kebiasaan yang salah, yang akan terjadi selanjutnya ialah saling menjelek-jelekkan sehingga kemudian timbullah suatu konflik. Konflik inilah yang menjadi akar dari sebuah perpecahan yang sangat merugikan bagi kita sendiri dan orang lain sebagai kelompok sosial

C. Oposisi

Proses ini akan terjadi pada sekelompok manusia yang selalu mencoba untuk menyalahkan hal atau kebijakan yang sudah dibuat sebelumnya atau kebijakan yang telah ada. Seseorang yang melakukan oposisi disebut dengan oposan.

Seorang oposan akan selalu menyerang berbagai pendapat orang lain yang masuk, yang tidak sesuai dengan jalan pikiran dan idenya tanpa memiliki alasan yang cukup atau alasan yang pasti. Akibat yang ditimbulkan ialah perpecahan dalam skala yang besar. Apabila hal ini tidak segera diselesaikan, akan menimbulkan permusuhan yang meluas.

Interaksi yang terjalin dengan model oposisi biasanya terjadi di dalam pemerintahan dengan sistem parlemen. Indonesia tidak mengenal oposisi di dalam pemerintahan karena tidak menginginkan adanya perpecahan muncul di tubuh pemerintah.

Pengalaman interaksi oposisi di pemerintahan pernah dilakukan di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno.

Akibatnya, pemerintahan menjadi sering berganti, akan tetapi tetap saja tidak menghasilkan pembangunan yang dibutuhkan oleh rakyat. Berdasarkan pengalaman tersebut, Indonesia tidak mengenal kembali oposisi di dalam sistem pemerintahan.

  • Keuntungan Oposisi
    • Program kerja pemerintah menjadi bisa dipantau dengan objektif.
    • Rakyat menjadi besrikap kritis dengan pola pikir yang berimbang pada parlemen.
    • Kinerja pemerintah bisa berjalan dengan professional.
  • Kerugian Oposisi
    • Kepentingan partai politik menjadi lebih dominan dibandingkan dengan kepentingan rakyat.
    • Program pemerintah sulit berjalan apabila parta atau kelompok oposisi selalu melakukan mosi tidak percaya.
    • Muncul banyak perdebatan yang tidak berujung pada kebijakan.

D. Diferensiasi

Interaksi model diferensiasi ini cukup diperuntukkan bagi seseorang dalam mendapatkan haknya sesuai dengan apa yang telah ia kerjakan.

Misal, seorang siswa akan mendapatkan nilai setelah adanya proses tagihan dalam bentuk ulangan tertulis ataupun dalam bentuk yang lainnya. Contoh lain yang ada di dalam masyarakat ialah apabila seseorang telah mendapatkan gaji/penghasilan setelah bekerja sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.

Proses diferensiasi selalu diperjuangkan oleh masyarakat dalam mendapatkan keadilan atas dirinya. Interaksi model ini biasanya terjadi antara warga negara dengan institusi tempat ia bekerja. Di dalam keluarga juga terjadi proses diferensiasi, yakni saat kira mendapatkan perlakuan yang seimbang. Misalnya kebutuhan primer yang lebih diprioritaskan terlebih dahulu oleh orang tua kita daripada kebutuhan untuk pergi berwisata.

E. Kompetisi

Tujuan dari sebuah kompetisi adalah usaha yang dilakukan untuk mencapai prestasi dengan cara mempertahankan mutu dan kualitas kerja serta sarana sehingga masyarakat menjadi terus maju berkembang.

Setelah memahami akan tujuan dari kompetisi ini, kita akan membahas bentuk persaingan yang terjadi di dalam masyarakat, meliputi, sosial, kebudayaan, politik, ekonomi, dan teknologi.

  • Kompetisi Sosial
Bentuk dari persaingan sosial adalah bentuk persaingan yang memperebutkan kedudukan atau jabatan yang ada dalam masyarakat. Persaingan ini bisa berbentuk persaingan ide atau kemampuan intelektual.

Persaingan intelektual misalnya, saat kampanye antar anggota legislatif atau calon penguasa. Setiap calon akan mempresentasikan hasil ide atau pemikiran yang mereka dapatkan dan siap untuk ditandingkan dengan ide lawannya.
  • Kompetisi Kebudayaan
Kompetisi kebudayaan merupakan bentuk kompetisi antar 2 (dua) lembaga yang memiliki kebudayaan berbeda. Persaingan ini biasanya berbentuk ekspo (pamer) keunggulan akan kebudayaannya masing-masing.

Bentuk dari persaingan ini berjalan secara positif selama dalam kerangka ekspo sebagai ajang atau wadah untuk menggali nilai-nilai budaya yang lebih dalam. Apabila persaingan menuju arah chauvinisme, sebaiknya untuk dihentikan saja karena tidak ada sudut pandang objektif mengenai kebudayaan.

Chauvinisme ini memandang semua hal yang ada di luar lingkungannya dengan tidak setara dengan kebudayaannya atau lebih rendah dari budayanya.
  • Kompetisi Politik
Kompetisi politik terjadi di dalam dunia pemerintahan di semua belahan negara. Kompetisi ini menjadi suatu ajang untuk saling memperkuat posisi/kedudukannya di dalam pemerintahan.

Kompetisi ini dilakukan agar setiap lembaga pemerintahan bisa mengatur dan membuat kebijakan yang benar-benar menguntungkan bagi seluruh rakyat. Dengan begitu, pemerintah akan lebih dipercaya oleh masyarakatnya dan kelak akan mendapatkan simpati yang begitu banyak dan mengalir dari rakyat saat pemilu berlangsung.
  • Kompetisi Ekonomi
Kompetisi ekonomi merupakan persaingan di dalam bidang perekonomian karena keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

Maka dari itu, dari setiap kompetisi ekonomi akan menghasilkan banyak tawaran produk di masyarakat. Tidak cukup mengehrankan apabila seuatu pemasaran sebuah produk begitu kreatif dan bisa mempengaruhi masyarakat untuk membeli produk tersebut.
  • Kompetisi Teknologi
Kompetisi model ini merupakan jenis kompetisi yang terkonsentrasi di dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Kemajuan dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ini selalu disikapi dengan adanya keikutsertaaan dari masyarakat dalam penggunaannya.

Saat ini, kompetisi teknologi menjadi lambang suatu kemajuan dan kedinamisan bagi anak muda atau kalangan remaja lebih tepatnya.

Kita bisa menggenggam dunia dengan sangat mudah melewati dunia internet. Kita bisa menembus batas jarak geografis dengan telepon seluler.

Banyak penyakit yang bisa ditanggulangi dengan seiring majunya teknologi kedokteran. Kemajuan di bidang biolog menghasilkan cara kloning tumbuhan serta hewan untuk mendapatkan spesies yang berguna bagi manusia.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!
 
Back To Top