Portal Situs Edukasi SD, SMP dan SMA/SMK Berbasis Internet di Jaringan Luas Nomor #1 di Indonesia

11 Jun 2016

Pengertian Budaya Politik dan Pembahasan Lengkap

Pengertian Budaya Politik dan Pembahasan Lengkap - Istilah budaya politik merupakan alih bahasa dari istilah the political culture. Sebagai salah satu konsepnya, istilah ini diperkenalkan oleh Gabriel A. Almond dalam tulisannya yang berjudul Comparative Political System di tahun 1956 silam.

Pada tahun 1960 hingga 1970, Gabriel A. Almond mengembangkan konsep budaya politik bersama dengan Sidney Verba, mereka mampu menghasilkan sebuah buku yang sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu politik, yakni The Civic Culture. Buku ini berisi tentang hasil penelitian Gabriel A. Almond dan Sidney Verba tentang budaya politik yang ada di 5 (lima) negara, yakni di negara Amerika, Inggris, Italia, Jerman, dan Meksiko.

Para pakar politik yang ada di Indonesia menerjemahkan konsep civic culture menjadi budaya politik atau kebudayaan politik.

Pada umumnya, budaya politik itu diartikan sebagai pandangan politik yang mempengaruhi sikap, orientasi, dan pilihan politik seseorang.

Atau dengan kata lain, budaya politik merupakan faktor yang mempengaruhi pola pengambilan keputusan-keputusan politik, baik itu oleh masyarakat ataupun oleh pemerintah. Faktor-faktor yang ada tersebut diataranya seperti agama, suku bangsa, sejarah, dan status sosial.

Makna lain dari budaya politik dikembangkan oleh Almond beserta dengan Powell dalam bukunya yang berjudul Comparative Politics: A Development Approach (1966:50) yang menyatakan jika budaya politik ini merupakan suatu bentuk konsep yang terdiri atas sikap, nilai-nilai dan keterampilan yang tengah berlaku bagi seluruh anggota masyarakat, termasuk pola-pola kecenderungan khusus serta pola-pola kebiasaan yang terdapat pada kelompok-kelompok masyarakat.

Sementara itu, Jack C. Plano di dalam Kamus Analisa Politik (1994:166), menyimpulkan jika budaya politik merupakan kumpulan pengetahuan yang membentuk akan pola tingkah laku terhadap pemerintah serta sistem politik dari suatu masyarakat. Ia seringkali diartikan sebagai tingkah laku politik dalam dimensi psikologis, misal pada keyakinan, perasaan serta orientasi evaluatif. Budaya politik merupakan produk pengelaman historis yang memperlancar proses sosialisasi terhadap setiap individu. [1]

Jika di dalam Wikipedia, Budaya Politik merupakan pola perilaku suatu masyarakat di dalam kehidupan bernegara, penyelenggaraan administrasi negara, politik pemerintahan, hukum, adat istiadat, serta norma kebiasaan yang dihayati oleh seluruh anggota masyarakat di setiap harinya.

Budaya politik juga bisa diartikan sebagai suatu sistem nilai bersama dari suatu masyarakat yang memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan kolektif dan penentuan kebijakan publik guna masyarakat yang seluruhnya.

Budaya Politik
Budaya Politik, via : merdeka.com (diedit oleh Admin)

Pengertian Budaya Politik dari Para Ahli

  • Rusadi Sumintapura
    • Budaya politik tidak lain adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik.
  • Sidney Verba
    • Budaya politik adalah suatu sistem kepercayaan empirik, simbol-simbol ekspresif dan nilai-nilai yang menegaskan suatu situasi di mana tindakan politik dilakukan.
  • Alan R. Ball
    • Budaya politik adalah suatu susunan yang terdiri dari sikap, kepercayaan emosi dan nilai-nilai masyarakat yang berhubungan dengan sistem politik dan isu-isu politik.
  • Austin Ranney
    • Budaya politik adalah seperangkat pandangan-pandangan tentang politik dan pemerintahan yang dipegang secara bersama-sama; sebuah pola orientasi-orientasi terhadap objek-objek politik.
  • Gabriel A. Almond dan G. Bingham Powell. Jr.
    • Budaya politik berisikan sikap, keyakinan, nilai dan keterampilan yang berlaku bagi seluruh populasi, juga kecenderungan dan pola-pola khusus yang terdapat pada bagian-bagian tertentu dari populasi. 

Ciri-ciri Budaya Politik

  1. Budaya politik merupakan nilai-nilai yang berkembang serta dipraktikan oleh suatu masyarakat tertentu di dalam suatu bidang politik. Ciri-ciri dari budaya politik ini, sebagai berikut :
  2. Adanya pengaturan kekuasaan.
  3. Proses pembuatan kebijakan pemerintah.
  4. Adanya kegiatan dari partai-partai politik.
  5. Perilaku dari aparat-aparat negara.
  6. Adanya budaya politik yang menyangkut mengenai masalah legitimasi.
  7. Adanya gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah.
  8. Menyangkut pola pengalokasian sumber-sumber masyarakat. [2]

Bagian-bagian Budaya Politik

Secara umum, budaya politik tersebut dibagi menjadi tiga :
  1. Budaya politik apatis (acuh, masa bodoh, dan pasif).
  2. Budaya politik mobiliasasi (didorong atau sengaja dimobilisasi).
  3. Budaya politik partisipatif (aktif).

Tipe-tipe Budaya Politik

1. Budaya Politik Parokial
Budaya politik parokial merupakan budaya politik yang tingkat partisipasi politiknya sangat rendah. Budaya politik suatu masyarakat bisa dikatakan parokial jika frekuensi orientasi mereka terhadap empat dimensi penentu budaya politik mendekati nol atau tak memiliki perhatian sama sekali terhadap keempat dimensi tersebut.

Tipe budaya politik ini pada umumnya terdapat di dalam masyarakat suku Afrika atau masyarakat pedalaman yang ada di Indonesia. Dalam masyarakat ini, tidak ada peran politik yang bersifat secara khusus. Kepala suku, kepala kampung, kyai atau bahkan dukun yang biasanya merangkum semua peran yang ada, baik itu peran yang bersifat politis, ekonomis atau bahkan religius.

2. Budaya Politik Kaula (Subjek)
Budaya politik kaula (subjek) yakni budaya politik masyarakat yang bersangkutan sudah relaitf lebih maju, baik itu dalam sosial maupun ekonomi, namun masih bersifat pasif. Budaya politik suatu masyarakat bisa dikatakan subjek jika terdapat frekuensi orientasi yang tinggi terhadap pengetahuan sistem politik secara umum dan objek output atau yang terdapat pemahaman mengenai penguatan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Namun, frekuensi orientasi mengenai struktur dan peranan dalam pembuatan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah tak selalu diperhatikan.

Para subyek menyadari akan otoritas pemerintah secara efektif mereka diarahakan kepada otoritas itu. Sikap masyarakat terhadap sistem politik yang ada ditunjukkan dengan melalui rasa bangga atau malah rasa tak suka. Pada intinya, dalam kebudayaan politik subyek, sudah ada pengetahuan yang memadai mengenai sistem politik secara umum serta proses penguatan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

3. Budaya Politik Partisipan
Budaya politik partisipan, yakni budaya politik yang ditandai dengan adanya kesadaran politik yang sangat tinggi. Masyarakat mampu memberi opini dan aktif dalam berkegiatan politik. Juga, merupakan suatu bentuk budaya politik yang di mana para anggota masyarakatnya yang telah memiliki pemahaman yang cukup baik tentang empat dimensi penentu dari budaya politik.

Mereka mempunyai pengetahuan yang memadai tentang sistem politik secara umum, mengenai peran pemerintah dalam membuat suatu kebijakan beserta dengan penguatan serta berpartisipasi aktif di dalam proses politik yang tengah berlangsung. Masyarakat akan lebih cenderung diarahkan kepada peran pribadi yang aktif di dalam semua dimensi yang ada di atas, meski perasaan dan evaluasi mereka terhadap peran itu bisa saja bersifat menerima atau bahkan menolak.

Budaya Politik yang Berkembang di Indonesia

Gambaran sementara akan budaya politik yang ada di Indonesia, dan tentu harus ditelaah serta dibuktikan secara lebih lanjut, merupakan pengamatan mengenai variabel sebagai berikut :
  • Konfigurasi subkultur yang ada di Indonesia masih beraneka ragam, walaupun tidak sekompleks dengan apa yang dihadapi di India misalanya, dengan menghadapi masalah perbedaan bahasa, agama, kelas, kasta yang semuanya itu relatif masih rawan atau rentan.
  • Budaya politik yang ada di Indonesia di mana memiliki sifat Parokial-Kaula di satu pihak serta budaya politik partisipan yang ada di lain pihak, di satu segi masa masih ketinggalan dalam menggunakan hak serta dalam memiliki suatu bentuk tanggung jawab politik yang mungkin disebabkan oleh adanya isolasi yang muncul dari kebudayaan luar, pengaruh penjajahan, feodalisme, bapakisme, serta ikatan primordial.
  • Sikap ikatan primordial yang masih kuat berakar, di mana biasa dikenal melalui indikator yang berupa sentimen kedaerahan, kesukaan, keagamaan, perbedaan penedekatan terhadap keagamaan tertentu; purutanisme serta non purutanisme dan lain sebagainya.
  • Kecenderungan budaya politik Indonesia di mana masih mengukuhi sikap paternalisme serta sifat patrimonial; sebagai indokatornya bisa disebutkan yaitu bapakisme, sikap asal bapak senang.
  • Dilema interaksi mengenai introduksi modernisasi (dengan segala konsekuensinya) dengan pola-pola yang telah lama berakar sebagai tradisi yang ada di dalam masyarakat.

Budaya Politik di Indonesia

Hirarki yang Tegar atau Ketat
Masyarakat yang ada di Jawa serta sebagian besar masyarakat lain yang ada di Indonesia, pada dasarnya masih bersifat hirarkis. Stratifikasi sosial yang hirarkis ini tampak dari adanya pemilihan tegas antara penguasa atau wong gedhe dengan rakyat kebanyakan atau wong cilik.

Masing-masing tersebut terpisah dengan melalui adanya tatanan hirarkis yang sangat ketat. Alam pikiran serta tatacara sopan santun diekspresikan hingga sedemikian rupa sesuai dengan asal-usul kelasnya masing-masing. Penguasa bisa menggunakan bahasa yang kasar kepada rakyat kebanyakan. Sebaliknya, rakyat harus mengekspresikan diri kepada penguasa dengan bahasa yang halus.

Dalam kehidupan politik, pengaruh stratifikasi sosial semacam hal tersebut antara lain tercermin di dalam cara penguasa memandang diri serta rakyatnya.

Kecenderungan Patronage
Pola hubungan patronage merupakan suatu budaya politik yang menonjol di Indonesia ini. Pola hubungan ini memiliki sifat individual. Di dalam kehidupan politik, dengan tumbuhnya budaya politik semacam ini tampak misalnya di kalangan pelaku politik. Di mana mereka akan lebih memilih untuk mencari dukungan dari atas daripada menggali dukungan dari basisnya.

Kecenderungan Neo-Partimonisalistik
Salah satu kecenderungan dalam kehidupan politik yang ada di Indonesia ialah adanya kecenderungan munculnya budaya politik yang memiliki sifat neo-patrimonisalistik; hal ini memiliki arti meskipun memiliki atribut yang bersifat modern serta rasionalistik seperti halnya birokrasi, perilaku negara juga masih memperlihatkan suatu tradisi serta budaya politik yang berkarakter patrimonial.

Ciri-ciri Birokrasi Modern :
  • Adanya suatu struktur hirarkis yang melibatkan suatu pendelegasian wewenang dari atas hingga ke bawah di dalam suatu organisasi.
  • Adanya posisi-posisi atau jabatan-jabatan yang masing-masing memiliki tugas serta tanggung jawab yang tegas.
  • Adanya aturan-aturan, regulasi-regulasi, serta standar-standar formal yang mengatur bekerjanya organisasi serta tingkah laku para anggotanya.
  • Adanya personil yang secara teknis memenuhi syarat, yang dipekerjakan pada dasar karir, dengan promosi yang didasarkan pada kualifikasi serta penampilan. [3]
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!
 
Back To Top