Portal Situs Edukasi SD, SMP dan SMA/SMK Berbasis Internet di Jaringan Luas Nomor #1 di Indonesia

11 Aug 2016

Sekolah di Swedia Sangat Berbeda dengan Sekolah di Indonesia

Sekolah di Swedia Sangat Berbeda dengan Sekolah di Indonesia - Muhadjir Effendy yang merupakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru menggantikan Anies Baswedan, menjadi buah bibir di belakangan ini.

Yang menjadi salah satu penyebabnya adalah, Muhadjir Effendy meluapkan idenya jika ia ingin menerapkan sistem sekolah sehari penuh atau bisa disebut dengan nama full day school (FDS).

Muhadjir Effendy menggambarkan, jika pada sistem ini, nantinya bagi para siswa akan pulang sekolah lebih sore. Siswa akan pulang pada pukul 17.00 WIB.

Anak Sekolah
Anak Sekolah, via beritakaltara.com

Ide yang muncul dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, ternyata hingga terdengar di telinga Antony Lee. Antony Lee juga tidak luput dari berita itu dan dia ikut memberikan komentarnya.

Antony Lee, merupakan seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang dirinya pernah bekerja menjadi sebagai relawan bahasa yang ada di sebuah sekolah di Swedia, dengan nama Fagelskolan.

Fagelskolan itu sendiri merupakan sebuah sekolah dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat sekolah menengah pertama, yang berlokasi di Lund, Skane, Swedia.

Antony Lee itu sendiri menjadi seorang relawan untuk mengisi waktu luang disaat dirinya tengah menjadi mahasiswa program Global Studies, jurusan Ilmu Politik, yang ada di suatu Universitas Swedia, pada tahun 2013 hingga tahun 2015.

Antony Lee tentu tidak kehabisan akal, dirinya mencoba untuk mengamati kegiatan siswa yang bersekolah di sana. Dari pengamatannya, mata pelajaran yang ada di Swedia itu sangat berbeda jauh dengan yang ada di Indonesia, terlebih di sekolah Fagelskolan, di mana sekolah tersebut menjadi salah satu contoh untuk sekolah-sekolah yang ada di Uni Eropa.

Di sekolah tersebut, ada pelajaran yang dinamakan dengan rumah ekonomi (sudah diartikan dalam Bahasa Indonesia). Anak-anak setingkat SD dan juga SMP yang ada di sana, akan diajarkan bagaimana cara memasak. Ruangan kelasnya itu sendiri bahkan disulap menjadi seperti dapur. Tidak hanya diajari cara memasak, siswa juga diajarkan berbelanja, hingga memilih bahan-bahan makanan.

Antony Lee juga pernah ditawari makanan hasil dari karya anak-anak itu. Di waktu siang hari, seperti di kantin pada waktu itu, Antony memakan kue yang ternyata kue itu merupakan hasil dari siswa-siswa yang ada di sana. Dia merasa sangat terkejut!

Tidak hanya mata pelajaran rumah ekonomi, ada juga kelas seperti studio musik di mana siswa akan diajarkan pelajaran musik. Studio musik ini bukan main-main saja, karena di dalamnya alat sudah lengkap.

Jika melihat dari waktu sekolah itu sendiri, tidak ada siswa yang pulang terlalu sore.

Masuk sekolah pada pukul 08.30 dan juga pulang pada pukul 14.30, dengan waktu istirahat selama 2 (dua) jam. Maka, waktu belajar efektif bisa disimpulkan berlangsung selama 4 (empat) jam saja.

Banyak alternatif lain, tidak harus menerapkan sistem sekolah sehari penuh atau full day school (FDS). Salah satunya bisa dengan mencanangkan kegiatan ekstrakurikuler, sehingga siswa bisa memiliki kebebasan dalam memilih kegiatan yang akan dilakukan olehnya.

Bahkan yang sangat mengagumkan, di Swedia, jika ada siswa yang gagal memperoleh nilai yang bagus, akan terus diberikan kesempatannya hingga siswa yang gagal itu menjadi bisa, diajarkan secara perlahan hingga mampu.

Sebenarnya, orang yang memiliki nilai buruk itu tidak bisa dicap sebagai orang yang gagal. Malahan, banyak, orang yang nilai buruk itu bisa sukses di beberapa tahun kemudian. Nasib tidak ada yang bisa tahu kan kedepannya?

Berbeda dengan pendidikan yang ada di Indonesia, di mana siswa harus selalu dituntut untuk bisa, bisa mendapatkan nilai bagus setiap harinya.

Bahkan, kegiatan mencontek itu sendiri terpaksa dilakukan oleh siswa maupun siswi di Indonesia agar bisa meraih hasil maksimal. Karena menurut anak sekolah sekarang, nilai itu segalanya. Dengan nilai, mereka bisa disegani sebagai orang yang cerdas.

Jadi, apa Anda sudah bisa membedakan pendidikan yang ada di Indonesia dengan pendidikan di Swedia?
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!
 
Back To Top