14 Feb 2017

Gotong Royong Ciri Khas Bangsa Indonesia, Pertahankan!

Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia ini bisa menambah kekayaan dari Bangsa Indonesia serta juga mampu mempererat adanya tali persaudaraan yang terjalin.

Hal itu sendiri sesuai dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang mempunyai arti walaupun berbeda-beda, namun tetap satu.

Semenjak dahulu kala, Indonesia ini sendiri sudah mengalami berbagai macam peristiwa dalam merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah. Akhirnya, kemerdekaan bisa diraih dengan sukses, dengan segala bentuk perjuangan antara hidup dan mati, tekad yang bulat, serta juga didukung oleh adanya semangat kebersamaan serta kekeluargaan.

Nenek moyang dari Bangsa Indonesia itu sendiri sudah mewariskan sikap dan rasa kekeluargaan, kebersamaan, serta tolong-menolong di dalam kehidupan bermasyarakat. Segela bentuk masalah yang timbul, akan dengan mudah terselesaikan secara baik jika memang dihadapi dengan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan. Ya, sikap gotong royong sebagai ciri khas Bangsa Indonesia, jangan untuk dilunturkan.

Pada zaman dahulu, nenek moyang Bangsa Indonesia sudah melakukan gotong royong di dalam kebanyakan hal. Misal itu dalam membangun rumah, membuat perahu, hingga menanam padi di sawah.

Gotong Royong

Hingga saat ini, kegiatan gotong royong juga dikatakan masih ada. Rumah yang didirikan tersebut biasanya terbuat dari kayu atau dari bambu. Mereka saling bekerja sama satu sama lain tanpa meminta adanya imbalan suatu apapun. Semua itu dilakukan dengan ikhlas!

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!

Kalimat ini memang singkat, namun makna yang tergambar di dalam kalimat tersebut begitu jelas. Persatuan memang menjadi salah satu landasan terpenting yang sudah sejak dahulu kala digunakan oleh para pejuang untuk bisa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Yang sangat disayangkan, budaya akan gotong royong ini sendiri secara perlahan sudah mulai memudar.

Di dalam perspektif sosiologi budaya, nilai yang terdapat di dalam gotong royong ini sendiri merupakan suatu bentuk semangat yang bisa diwujudkan dalam perilaku atau suatu tindakan individu yang dilakukan dengan tanpa mengharapkan adanya balasan atau imbalan untuk melakukan atau mengerjakan suatu hal secara bersama, demi terciptanya kepentingan bersama.

Salah satu contoh bentuk dari perilaku gotong royong yang ada di pedesaan yakni seperti :
  1. Membangun jembatan
  2. Membersihkan jalan
  3. Kerja bakti

Tidak hanya di pedesaan saja, bentuk gotong royong di perkotaan juga hampir mirip dengan 3 contoh yang ada di atas.

Sikap gotong royong ini sendiri sudah menjadi salah satu tradisi serta kepribadian dari bangsa Indonesia yang memang harus benar-benar bisa untuk dijaga serta dipelihara hingga kelak, atau bahkan selamanya harus tetap ada.

Karakter yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia ini sendiri sangatlah bagus, yang mana karakter Bangsa Indonesia juga belum tentu dimiliki oleh negara lain.

Semua itu dilakukan untuk menciptakan kesejahteraan untuk individu itu sendiri atau bisa untuk bersama.

Dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang kian pesat, tidak menjadi penghalang bagi kita semua untuk memupuk serta mempertahankan perilaku terpuji yang satu ini.

Adanya ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar, sudah seharusnya bisa menjadi tameng jika kita adalah pribadi yang sulit untuk dikalahkan. Semakin dilawan dan dihancurkan, maka sikap positif yang kita miliki harus bertambah menjadi kuat.

Kita ketahui, di era globalisasi yang seperti ini sangat berbahaya dan harus bisa disaring (filter) agar memberikan dampak yang positif buat kita, dan hal yang negatif bisa dibuang jauh-jauh. Perlu kita ketahui sebelumnya, di zaman yang sekarang ini, lebih mengedepankan sikap individualisme.

Sangat disayangkan jika sikap yang satu ini mulai luntur dan hilang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang menjadi salah satu akibarnya adalah penetrasi budaya Barat yang bergulir secara cepat, secara paksa yang mau tidak mau harus diterima.

Padahal, sifat dari gotong royong ini patut diapresiasi, karena bisa terlaksana dengan ikhlas dan secara sukarela untuk bisa saling berpartisipasi membantu yang satu dengan yang lain.

Perlu diperhatikan lebih dalam jika sikap individualisme perlu dibuang jauh-jauh. Karena, manusia itu sejatinya merupakan makhluk sosial, yang tidak bisa hidup sendiri dan pasti akan selalu membutuhkan bantuan atau uluran tangan dari orang lain untuk bisa menyelesaikan beragam masalah yang tengah dihadapi.

Banyak sekali contoh budaya gotong royong yang sudah kian memudar di era seperti ini, salah satunya di dalam bidang ekonomi.

Modal atau keuntungan yang dijalankan dalam suatu bisnis hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang saja, itu salah satu contohnya.


Tidak hanya itu saja, sudah semakin banyak juga orang asing yang mulai masuk di Indonesia yang mendirikan tempat usaha yang mana tempat usaha tersebut lebih modern dan nyaman dibandingkan dengan tempat usaha milik orang pribumi asli, ini yang juga menjadi salah satu penghambatnya.

Dengan berdiri usaha tersebut, maka orang-orang juga akan cenderung tertarik untuk mendatangi dan membeli kebutuhan di tempat orang asing tersebut. Akhirnya, inilah dampaknya, usaha milik pribumi asli harus kandas, harus tersingkir, harus terhenti di tengah jalan.

Kita sebagai salah satu bagian dari Bangsa Indonesia, terlebih menjadi pribumi asli, harus bisa melestarikan sifat asli Indonesia. Walaupun, di era globalisasi yang seperti ini, yang terus dibombardir oleh dunia barat, kita harus tetap bisa menjaga diri dan bisa mempertahankan sifat asli Indonesia. Mengingat, sifat asli Bangsa Indonesia kesemuanya hal-hal yang berbau kebaikan, jadi tidak untuk ditinggalkan begitu saja.

Karena, jika kita sudah kembali mulai membantu satu sama lain, bergotong royong, maka yang lain juga akan saling percaya dan saling terdorong untuk bisa mempertahankan nilai ini. Pada akhirnya, jika memiliki tekad kuat dan niat yang baik, maka kita sebagai masyarakat Indonesia, bisa menyingkirkan semua hal yang berbau negatif yang sudah sepatutnya dihindarkan dari Indonesia.
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!

Wah! Orang-orang di sekitar kita telah berkomentar sebanyak lebih dari 850 komentar! Sekarang giliran kalian! Ayo berpendapat!

Habibullah Al Faruq

Portal Situs Edukasi SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi di Jaringan Luas Indonesia

 
Admin - FAQ - Kontak Kami - Perjalanan - Privacy Policy - Tentang HabibullahURL
Back To Top