20 Mar 2017

Perkembangan Agama Hindu di Indonesia dan Populasinya

Agama Hindu atau biasa disebut dengan Hinduisme merupakan salah satu agama yang cukup dominan di beberapa kawasan Asia Selatan, terutama di India dan Nepal, yang mana terdapat beraneka ragam tradisi.

Di dalam Agama Hindu meliputi berbagai macam aliran, diantaranya Saiwa, Waisnawa dan Sakta, serta suatu bentuk pandangan luas mengenai hukum beserta aturan mengenai "moralitas sehari-hari" yang didasarkan pada karma, darma, dan juga norma kemasyarakatan.

Di dalam agama ini cenderung seperti himpunan dari berbagai macam pandangan filosofis atau sosok intelektual, dibandingkan dengan hanya seperangkat keyakinan yang baku nan seragam.

Bisa dikatakan juga jika agama yang satu ini menjadi salah satu agama tertua di dunia, yang pada masa kini masih ada dan terus tetap bertahan. Umat Hindu itu sendiri menyebut agamanya dengan Sanatana-dharma yang berarti "darma abadi" atau "jalan abadi" yang melampaui asal mula seorang manusia.

Pada agama Hindu tersedia bentuk kewajiban kekal untuk diikuti oleh seluruh umat atau pengikutnya tanpa memandang adanya kasta, strata atau sekte seperti contohnya kejujuran, kesucian, hingga bentuk seperti pengendalian diri.

Para ahli yang berasal dari Barat memandang jika Hinduisme ini merupakan suatu bentuk peleburan atau sintesis dari berbagai macam bentuk tradisi beserta dengan kebudayaan yang berasal dari India, dengan pangkal yang juga beragam namun tanpa adanya tokoh pendiri.

Pangkal-pangkalnya meliputi Brahmanisme (agama Weda Kuno), agama yang ada di masa peradaban lembah Sungai Indus dan tradisi lokal yang cukup populer. Sintesis itu muncul sekitar tahun 500 hingga 200 SM serta tumbuh secara berdampingan dengan agama Buddha hingga sampai abad ke-8.

Dari India Utara, "sintesis Hindu" langsung dibawa dan disebar ke selatan, hingga sebagian wilayah Asia Tenggara. Hal ini didukung oleh Sanskritisasi. Semenjak abad yang ke-19, di bawah dominasi dari kolonialisme Barat serta Indologi (di saat istilah "Hinduisme" mulai digunakan secara luas), agama Hindu dipertegas lagi sebagai tempat berhimpunnya beragam macam tradisi yang koheren dan independen.

Pemahaman yang populer mengenai agama Hindu digiatkan melalui adanya gerakan "modernisasi Hindu", yang menekankan mistisisme dan persatuan dalam tradisi Hindu. Ideologi Hindutva dan politik Hindu muncul saat abad yang ke-20 sebagai salah satu bentuk kekuatan politis dan juga jati diri dari bangsa India.

Praktik keagamaan Hindu meliputi seperti ritus sehari-hari, contohnya puja atau sembahyang dan pembacaan doa, perayaan suci di hari-hati tertentu hingga penziarahan.

Kaum petapa yang disebut sebagai sadu atau orang suci memilih untuk lebih melakukan tindakan yang jauh lebih ekstrem dibandingkan dari umat Hindu pada umumnya, yakni melepaskan diri dari kesibukan duniawi dan melaksanakan tapa brata selama di sisa hidupnya, untuk bisa mencapai moksa.

Dengan penganutnya yang sekitar 1 miliar orang, agama Hindu menjadi agama terbesar ketiga di dunia setelah agama Kristen dan Islam. Lantas, bagaimana perkembangan agama Hindu di Indonesia? Berapa populasinya? [1]

Perkembangan Agama Hindu di Indonesia

Agama Hindu
Agama Hindu, via daerahbali.com

Agama Hindu di Nusantara (sekarang ini lebih dikenal dengan nama Indonesia) sudah ada sebanyak 3% penganutnya dari total populasi masyarakat di Indonesia, dengan sebanyak 83,46% ada di Bali dan 3,78% ada di Sulawesi Tengah berdasar dari Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010 silam.

Penduduk asli Kepulauan Nusantara mempraktikkan agama asli yakni animisme dan juga dinamisme, yang mana keyakinan tersebut merupakan keyakinan umum untuk orang-orang Austronesia. Pribumi Nusantara menghormati dan juga memuja para roh leluhut. Mereka yakin jika sukma mampu menghuni tempat-tempat tertentu, salah satunya seperti pada pohon besar, hutan, pegunungan, batu, atau pada tempat suci.

Entitas yang tak terlihat memiliki kekuatan supernatural ini berhasil diidentifikasi oleh suku Jawa tradisional dan suku Bali sebagai "hyang" serta oleh suku Dayak sebagai "sangiang" yang memiliki arti "ilahi" atau "leluhur".

Akan tetapi, di era modern bahasa Indonesia, "hyang" cenderung lebih dikaitkan dengan Tuhan, terlebih setelah di era Orde Baru.

1. Kedatangan Agama Hindu di Nusantara

Pengaruh dari agama Hindu berhasil mencapai Kepulauan Nusantara sejak di abad yang pertama. Memang, ada beberapa teori mengenai bagaimana agama yang satu ini bisa mencapai ke Indonesia.

Teori masuknya agama Hindu di Indonesia :
  • Teori Vaishya (perkawinan yang terjadi antara pedagang Hindustan dengan penduduk asli Nusantara)
  • Teori Kshatriya (prajurit yang kalah perang dari Hindustan menemukan tempat sebagai pelipur lara di Nusantara)
  • Teori Brahmana (mengambil sudut pandang yang jauh lebih tradisional jika misionaris menyebarkan agama Hindu ke pulau-pulau yang ada di Nusantara)
  • Teori Bhumiputra (pribumi Nusantara lebih memilih sendiri kepercayaan yang muncul itu setelah melakukan perjalanannya ke Hindustan)

Sekitar pada abad yang ke-4, Kerajaan Kutai yang terletak di Kalimantan Timur, Kerajaan Tarumanegara yang terletak di Jawa Barat dan Kerajaan Kalingga yang berada di Jawa Tengah, termasuk ke dalam Kerajaan Hindu yang didirikan di wilayah Nusantara.

Beberapa kerajaan Hindu kuno Nusantara yang cukup mencolok atau cukup menonjol ialah Mataram, yang dikenal karena membangun Candi Prambanan yang begitu megahnya, dengan diikuti oleh Kerajaan Kediri dan Singasari.

Semenjak inilah, agama Hindu bersama dengan Buddhisme menyebar di seluruh penjuru Nusantara hingga pada akhirnya berhasil mencapai puncak kejayaan atau pengaruh di abad ke-14. Kerajaan yang terakhir dan terbesar di antara kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha Jawa, Majapahit, menyebarkan suatu bentuk pengaruh di seluruh kepulauan Nusantara.

2. Kepercayaan dan Praktik Umum

Praktisi Agama Hindu Dharma di Indonesia sama-sama berbagi banyak hal mengenai keyakinan Hindu yang bersifat umum, seperti :
  • Sebuah keyakinan dalam satu keberadaan Maha tinggi yang disebut dengan "Ida Sang Hyang Widhi Wasa", "Sang Hyang Tunggal", atau "Sang Hyang Acintya". Tuhan yang Maha Esa pada budaya suku Toraja yang berasal dari Sulawesi Tengah lebih dikenal sebagai "Puang Matua" di keyakinan Aluk To Dolo.
  • Sebuah keyakinan jika semua dewa itu merupakan manifestasi dari kebudayaan tertinggi itu. Kepercayaan ini sama dengan keyakinan dari Smartha Sampradaya, yang juga menyatakan jika beragam bentuk Dewa, seperti contohnya Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa merupakan aspek-aspek yang berbeda dari keberadaan Maha tinggi yang sama itu. Dewa Siwa dipuja dalam bentuk lain, seperti halnya "Bhatara Guru" dan "Maharaja Dewa" (Mahadewa) yang lebih diidentifikasikan erat dengan Matahari dalam bentuk lokal Hindu atau suatu bentuk Kebatinan, dan bahkan pada dongeng jin Muslim.
  • Sebuah keyakinan mengenai Trimurti, yang terdiri atas :
    • Brahma, sebagai sang pencipta
    • Vishnu atau Wisnu, sebagai sang pemelihara
    • Siwa, sebagai sang pelebur (kadang pula juga sebagai perusak atau penghancur)
  • Sebuah keyakinan mengenai semua Dewa-Dewi Hindu yang lain (Hyang, Dewata dan Batara-Batari)

Kitab suci yang ada di dalam agama Hindu Dharma merupakan Weda. Kitab ini merupakan segala bentuk dasar dari agama Hindu Bali. Sumber-sumber informasi keagamaan yang lain juga termasuk seperti Purana dan Itihasa (terutama naskah Ramayana dan Mahabharata).

Salah satu bentuk perhatian yang utama mengenai kepantasan pada agama Hindu merupakan suatu bentuk konsep kemurnian ritual.

Corak penting lain yang ikut membedakan secara tradisional dengan membantu menjaga kemurnian ritual, merupakan pembaian golongan masyarakat pada kelompok pekerjaan tradisional, yakni : Brahmana (pendeta), Kshatriya (penguasa-prajurit), Vaishya (pedagang-petani) dan Shudra (jelata-buruh). Seperti agama Buddha dan Islam, agama Hindu yang ada di Indonesia juga sudah dimodifikasi karena ikut menyesuaikan dengan kondisi dari masyarakat yang ada di Indonesia.

Sistem kasta walaupun hadir di dalam bentuk, namun tak pernah secara kaku diterapkan dalam kehidupan di Nusantara. Epos Mahabharata (pertempuran besar yang terjadi dari Keturunan Bharata) dan Ramayana (perjalanan dari Rama) menjadi salah satu bentuk tradisi abadi yang terjalin antara umat Hindu yang ada di Nusantara, dengan dinyatakan pada kesenian wayang kulit dan seni tari.

Pemerintah Indonesia memang sudah mengakui jika Hindu menjadi salah satu agama dari sebanyak 6 agama monoteistik resmi, bersama dengan agama yang lain seperti Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu, atau Konghucu.

Akan tetapi, Pemerintah Indonesia tak mengakui sistem kepercayaan suku adat sebagai bentuk agama yang resmi. Hal ini berakibat pengikut dari berbagai agama animisme asli seperti contohnya Dayak kaharingan sudah mengidentifikasi diri mereka sebagai sosok Hindu untuk menghindari tekanan masuk ke dalam agama Islam atau Kristen.

Beberapa keyakinan suku adat asli seperti contohnya Sunda Wiwitan yang berasal dari suku Sunda, Aluk To Dolo yang berasal dari suku Toraja dan Parmalim yang berasal dari suku Batak, walaupun berbeda dari agama Hindu Bali yang dipengaruhi oleh Hindustan, mungkin lebih mencari afiliasi dengan agama Hindu untuk tetap bisa bertahan hidup. Sementara itu, di saat yang sama juga mencoba untuk tetap melestarikan suatu bentuk perbedaan mereka terhadap aliran utama Hindu di Indonesia yang rata-rata didominasi oleh suku Bali.

Tidak hanya itu saja, kaum nasionalis Indonesia juga sudah sangat mengangkat prestasi Kerajaan Majapahit, yang merupakan sebuah Kerajaan besar agama Hindu yang berhasil membantu menarik orang-orang Indonesia modern kepada agama Hindu. Faktor yang seperti ini yang menyebabkan kebangkitan Hindu yang secara perlahan berada di luar Bali. [2]

3. Statistik

Berdasarkan dari Sensus Penduduk Indonesia 2010, ada sebanyak 4.012.116 umat Hindu yang berada di Indonesia.

Bisa dikatakan agama Hindu di Indonesia menyumbang sebesar 1,69% dari seluruh populasi penduduk di Indonesia. Dengan presentase tersebut disimpulkan jika di Indonesia, agama Hindu meningkati peringkat ke-4 sebagai agama yang banyak pemeluk di Indonesia.

Agama Hindu di Indonesia juga sedikit lebih banyak di Indonesia dibandingkan dengan agama Buddha. Terbukti, di peringkat ke-5, agama Buddha menyumbang sebesar 0,72% saja.

Berikut ini presentase populasi berdasar sensus penduduk 2010 :
  • Agama Islam : 87,18%
  • Kristen Protestan : 6,96%
  • Katolik : 2,91%
  • Hindu : 1,69%
  • Buddha : 0,72%
  • Kong Hu Cu : 0,05%
  • Tidak menjawab : 0,06%
  • Tidak ditanya : 0,32% [3]
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!

Wah! Orang-orang di sekitar kita telah berkomentar sebanyak lebih dari 800 komentar! Sekarang giliran kalian! Ayo berpendapat!

Habibullah Al Faruq

Portal Situs Edukasi SD, SMP dan SMA/SMK Berbasis Internet di Jaringan Luas Nomor #1 di Indonesia

 
Admin - FAQ - Kontak Kami - Perjalanan - Privacy Policy - Tentang HabibullahURL
Back To Top