23 May 2017

Mengapa Istilah Praaksara Lebih Tepat dari Prasejarah? Ini Jawabannya!

Dalam belajar sejarah pasti terngiang muncul di benak ataupun pikiran kita, mengapa istilah praaksara lebih tepat dibandingkan dengan istilah prasejarah?

Sebenarnya, jika memang kita benar-benar seorang pelajar, dari bahasanya saja kita sudah bisa mengetahui apa yang janggal di kalimat tersebut dan menyimpulkan mengapa praaksara jauh lebih tepat daripada prasejarah itu sendiri.

Biasanya, istilah tersebut rancu, ada yang menggunakan praaksara atau prasejarah, atau bahkan ada yang menggabungkan keduanya dalam 1 artian, untuk menggambarkan kehidupan manusia purba di masa lalu (masa lampau) di mana pada masa itu, manusia purba sama sekali belum mengenal yang namanya tulisan.

Jadi, di dalam artikel ini, akan kita berikan bahasan mendalam disertai dengan bahasan singkat atau secara garis besar mana yang lebih tepat untuk menggambarkan kehidupan manusia purba di masa yang sudah lampau tersebut.

Untuk mempelajari ini lebih dalam, maka diperlukan bimbingan yang jauh lebih baik dan diharapkan untuk bisa memahami jawaban di bawah ini agar nanti tak timbul kerancuan lagi sewaktu dalam proses atau kegiatan belajar mengajar, baik itu di rumah maupun di sekolah.

Praaksara atau Prasejarah?

Praaksara atau Prasejarah

Hal ini berkaitan dengan apa yang akan dibahas pada buku Sejarah Indonesia kelas 10 SMA/SMK/MA Semester 1 Kurikulum 2013 di halaman 8, pada soal nomor 1, yakni :

Mengapa istilah praaksara lebih tepat dibandingkan istilah prasejarah untuk menggambarkan kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan?

A. Bahasan Secara Mendalam

Praaksara

Cobalah kita menganalisis lebih lanjut dari kalimat praaksara itu sendiri. Praaksara berasal dari kata pra dan kata aksara.
  • Pra : memiliki arti sebelum
  • Aksara : memiliki arti tulisan

Jadi, jika disimpulkan, praaksara itu bisa diartikan dengan zaman manusia sebelum mengenal adanya tulisan atau aksara.

Ada 3 masa penting di zaman praaksara itu sendiri, yang pada masa tersebut, manusia purba melakukan sebanyak 3 fase penting di dalam kehidupannya, seperti :
  1. Berburu dan mengumpulkan makanan
  2. Bercocok tanam
  3. Perundagian (membuat barang-barang untuk kehidupan sehari-hari)

Masa praaksara juga biasa disebut juga dengan nama zaman nirleka. Nir berarti "tidak ada" dan Leka yang berarti "tulisan".

Walaupun memang belum mengenal adanya tulisan, namun masyarakatnya sudah mempunyai kemampuan berbahasa dan kemampuan dalam berkomunikasi lisan bahkan hingga mampu merekam jejak pengalaman masa lalu dengan sedemikian rupa, sehingga kita sekarang juga bisa memperoleh gambaran yang cukup baik akan kehidupan masyarakat di masa lampau.

Prasejarah

Setelah mengidentifikasi kata praaksara, sekarang kita mencoba melihat lebih dalam dari prasejarah itu sendiri.
  • Pra : memiliki arti sebelum
  • Sejarah : memiliki arti penyelidikan atau pengetahuan yang didapat dari hasil penelitian yang mendalam. Dalam bahasa Inggris dinamakan dengan history

Jadi, jika disimpulkan, prasejarah itu sendiri memiliki arti masa sebelum ada sejarah.

Maka, penggunaan istilah prasejarah untuk menggambarkan atau mendeskripsikan kehidupan manusia purba di masa lampau, terasa kurang begitu tepat.

Hal ini terbukti karena pada saat itu, manusia purba sudah melakukan kehidupannya masing-masing dan menjadi salah satu pertanda jika sejarah sudah terjadi walaupun memang belum mengenal yang namanya tulisan. Walaupun juga mereka belum mampu mencatat setiap rinci atau detail dari setiap peristiwa kehidupan yang mereka jalani kala itu, namun mereka sudah berhasil melakukan semacam usaha untuk meninggalkan jejak sejarah yang menarik untuk diamati dan diteliti secara lebih dalam.

B. Bahasan Secara Singkat (Garis Besar)

Praaksara berasal dari kata pra yang berarti sebelum dan aksara yang berarti tulisan. Jadi praaksara adalah masa di mana sebelum manusia mengenal yang namanya tulisan.

Prasejarah berasal dari kata pra yang berarti sebelum dan sejarah yang berarti pengetahuan yang didapat dari penelitian secara mendalam. Jadi, disimpulkan jika prasejarah adalah masa di mana manusia belum mengenal sejarah.

Yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan istilah manusia purba pada masa lampau dalam kegiatan sehari-hari adalah istilah praaksara, karena walaupun mereka belum mengenal tulisan, setidaknya sudah ada jejak peninggalan yang bisa dicirikan sebagai salah satu bentuk sejarah yang menarik untuk diamati oleh para peneliti. Atau dengan kata lain, walaupun manusia purba belum mengenal yang namanya tulisan, mereka sudah mempunyai sejarah dan sudah berhasil menghasilkan kebudayaannya sendiri.

Jika dengan prasejarah itu sendiri, artinya belum ada sejarah. Lantas, apa yang akan diceritakan? Tidak ada kan? Belum ada sejarah, lalu apa yang harus diceritakan?

Jadi, sudah sedikit lebih paham?

C. Pembahasan

Bentuk kebudayaan yang telah dihasilkan oleh manusia purba di masa lalu itu salah satu bentuk kegiatan kecil untuk dikembangkan dalam kehidupan manusia di masa selanjutnya atau di masa yang akan datang. Masalahnya, dari situlah ada banyak hal yang bisa dipelajari lebih jauh lagi.

Bahkan, bisa dikatakan juga jika manusia purba di masa lampau itu menjadi salah satu pelopor sejumlah budaya kehidupan sehari-hari yang ada pada saat ini.

Misalnya saja, contoh kecil ialah memasak dengan menggunakan api. Yang akhirnya, di masa kini, dikembangkan dengan memasak menggunakan kompor untuk menghasilkan suatu masakan yang lezat dan mengandalkan bahan yang tersedia di alam untuk diolah menjadi makanan, yang bertujuan untuk memberikan energi dan mengenyangkan.

Memang sulit untuk bisa mengetahui kapan waktu dimulainya zaman praaksara dan kapan zaman praaksara itu sendiri berakhir. Zaman praaksara dimulai semenjak manusia ada dan itulah titik dimulainya masa praaksara. Sementara itu, jika membahas kapan zaman ini berakhir adalah saat manusia sudah mengenal yang namanya tulisan.

Kapan manusia mengenal tulisan? Memang salah satu pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Bahkan, sampai sekarang ini, para ahli juga belum bisa mengungkapkan secara pasti waktu kapan berakhirnya masa tersebut.

Sementara itu, jika kita membahas di Nusantara (Indonesia masa lampau), zaman praaksara di Indonesia sendiri diperkirakan berakhir di masa berdirinya Kerajaan Kutai, yakni pada sekitar abad ke-5, yang mana pada waktu itu dibuktikan dengan adanya prasasti yang berbentuk yupa, ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Hal tersebut terbilang cukup lambat atau malah terlambat jika membandingkannya dengan tempat lain, semisal di Mesir dan Mesopotamia yang sudah mengenal tulisan semenjak sekitar tahun 3000 SM.

Karena memang tidak ada peninggalan catatan tertulis dari zaman praaksara, keterangan akan zaman ini sendiri berhasil didapat atau diperoleh melalui bidang seperti paleontologi, astronomi, biologi, antropologi, arkeologi dan geologi.

Mengingat dengan cukup jauh rentang waktu antara masa praaksara dengan masa kita sekarang, maka tak jarang pula banyak orang yang mempersoalkan apa perlunya kita untuk belajar mengenai zaman praaksara yang memang sudah lama ditinggalkan oleh manusia modern.

Akan tetapi, pandangan yang dikemukakan tersebut adalah ciri khas orang yang enggan belajar sejarah, enggan belajar seluk-beluk seperti yang ada pada kehidupan saat ini. Semua yang modern saat ini, pasti berawal dari yang namanya kehidupan di masa lalu.

Yang dulunya memasak menggunakan api, sekarang menggunakan kompor. Yang dulunya hidup kehujanan atau menetap di gua bahkan berpindah-pindah, sekarang memiliki rumah sendiri sebagai tempat tinggal. Yang dulunya menulis menggunakan batu atau bahan yang ada di alam, sekarang menulis menggunakan pensil, pulpen atau bahkan mengetik di komputer.

Jadi, setiap peradaban yang maju, spesial dan istimewa pastilah memiliki awal yang mengharukan. Seperti contohnya, mungkin manusia pada saat itu hanya menganggap sebuah mimpi saja jika ingin terbang. Nyatanya, sekarang bukanlah sebuah mimpi, itu nyata terjadi dengan kemajuan teknologi dan bisa menghubungkan kita untuk bepergian hingga ke seluruh dunia, itulah dengan munculnya pesawat.
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631) - YUK SHARE DI FACEBOOK, TWITTER dan GOOGLE+!

Wah! Orang-orang di sekitar kita telah berkomentar sebanyak lebih dari 850 komentar! Sekarang giliran kalian! Ayo berpendapat!

Habibullah Al Faruq

Portal Situs Edukasi SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi di Jaringan Luas Indonesia

 
Admin - FAQ - Kontak Kami - Perjalanan - Privacy Policy - Tentang HabibullahURL
Back To Top