Habibullah Al Faruq

Portal Situs Edukasi SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi di Jaringan Luas Indonesia

21 Aug 2017

7 Contoh Sikap Nilai-nilai Pancasila Sila ke-1

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, sila ke-1 (sila pertama), tepatnya yang berbunyi, "Ketuhanan yang Maha Esa" ini memang penting untuk diterapkan yang mana penerapan, perwujudannya dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari, disertai juga penjelasannya.

Contoh dari nilai Pancasila sila pertama dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak dan sangat mudah untuk dijelaskan jika kalian bisa dengan mudah memahaminya secara perlahan dan mulai mencoba untuk menghayati setiap silanya.

Dalam sila yang pertama ini, nilai sila Ketuhanan yang Maha Esa memang sangat penting dan perlu untuk diterapkan. Karena memang yang paling utama ialah Tuhan, yang sudah memberikan kita kehidupan, kesehatan dan kebahagiaan hingga hari ini.

Berikut ini beberapa contoh dan penjelasan mengenai sila pertama, sila Ketuhanan yang Maha Esa.

Contoh Nilai Sila Pertama (Ketuhanan yang Maha Esa)

Pancasila
Pancasila, via rilis.id

1. Pengakuan Adanya Kausa Prima (Sebab Pertama), yaitu Tuhan yang Maha Esa

Yang paling pertama ialah Tuhan. Tuhan telah memberikan segalanya bagi kita, terutama bagi seluruh makhluk hidup di dunia ini, bahkan hingga semesta alam yang sudah tercipta jutaan tahun lalu.

Karena memang pada dasarnya, makhluk hidup, terutama manusia tak akan pernah bisa berkutik sama sekali jika Tuhan sudah menghendakinya untuk terjadi. Yang diutamakan ialah Tuhan.

Cara mendekatkan diri kepada Tuhan ialah selalu beribadah, menjalankan semua perintahNya dan menjauhi laranganNya. Adakalanya manusia ditegur untuk kembali ke jalan yang benar, yang sebelumnya berjalan di jalan yang salah.

Kehidupan di suatu negara akan jauh lebih baik jika masyarakatnya memiliki iman yang kuat, dan lain sebagainya, sehingga negara terjaga dari berbagai macam bentuk ancaman baik itu ancaman yang datang dari luar, atau malah datang sendiri dari dalam. Banyak sekali ancaman, ada ancaman militer dan ancaman non-militer yang harus tetap kita waspadai.

2. Setiap Penduduk Berhak Memeluk Agamanya Masing-masing dan Beribadah sesuai Agamanya

Setiap penduduk di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki hak atau berhak untuk menganut atau memeluk agamanya masing-masing, tanpa adanya paksaan atau dorongan dari faktor luar.

Masyarakat di Indonesia diperbolehkan untuk menganut agamanya masing-masing, tidak boleh dipaksakan oleh kepentingan sendiri ataupun kepentingan suatu oknum tertentu.

Sebagai contoh, NKRI yang memiliki masyarakat mayoritas Islam, biarkanlah masyarakatnya, keturunannya, memeluk agama Islam, jangan dipaksakan oleh suatu oknum tertentu dengan iming-iming untuk demi mengalihkan kepercayaan dan hak seseorang.

Begitu sebaliknya, banyak non-Muslim yang ada di NKRI, juga biarkan mereka sesuai dengan haknya untuk memeluk agama mereka, jangan dipaksa oleh oknum tertentu demi kepuasan atau keinginan semata.

Indahnya jika kita bisa saling bersama, saling berbagi dan saling menghargai satu sama lain, tentu aman dan damai serta tenteram akan tercipta dengan muda di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Baca juga : Pancasila sebagai Dasar Negara

3. Tidak Memaksa Warga Negara untuk Beragama, Melainkan Diwajibkan untuk Memeluk Agama sesuai Hukum yang Berlaku

Mengacu pada sila yang pertama ini, sila Ketuhanan yang Maha Esa, memang pada dasarnya masyarakat di Indonesia itu diharuskan untuk memeluk agamanya masing-masing.

Hal ini terjadi karena, jika dengan masyarakat menganut agama, otomatis, masyarakat percaya akan adanya Tuhan akan kekuasaan dari Tuhan, dan yang lain sebagainya. Tidak hanya itu saja, dengan beragama, pola perilaku setiap masyarakat atau tatanan hidupnya juga lebih terjaga.

Masyarakat yang memiliki iman kuat, memiliki pondasi agama yang kuat, serta memiliki harga diri, tak akan pernah berbuat tercela, seperti :
  • Mencuri
  • Menjambret
  • Memukul
  • Pendendam
  • Menghakimi sendiri
  • dan lain sebagainya

Karena memang, masyarakat beragama itu tahu jika Tuhan selalu melihat, selalu mendengar setiap gerak-gerik manusia. Maka dari itu, dengan iman yang kuat, maka tatanan hidup masyarakat di Indonesia bisa lebih terjaga dengan baik.

Hal ini jugalah yang mendorong agar masyarakat Indonesia itu tak menganut ajaran Atheis, melainkan lebih cenderung untuk memiliki agama sendiri, sehingga memiliki perilaku, bahkan norma, yang paling penting norma agama yang baik antar sesama masyarakat di Indonesia.

4. Atheisme Dilarang Hidup dan Berkembang di Indonesia

Hal ini sebenarnya agak mirip dan memiliki sangkut paut dengan poin nomor 3 di atas yang mana kita sebagai masyarakat Indonesia, diharuskan menjadi masyarakat yang beragama.

Bayangkan saja jika ada yang menganut Atheis. Mereka saja tidak percaya dengan adanya Tuhan, apalagi dengan masyarakat di sekitarnya?

Tuhan itu yang harus diutamakan, yang harus dinomor satukan, namun di Atheis, mereka sama sekali tak percaya dengan adanya Tuhan. Jadi, inilah alasan mengapa masyarakat di Indonesia diwajibkan untuk menganut agamanya masing-masing.

Karena memang pada dasarnya, setiap agama tentu mengajarkan kebaikan, bukan mengajarkan keburukan atau malah mengajarkan kebodohan yang sama sekali tidak ada manfaatnya untuk kehidupan di dunia ini.

Sebenarnya simple saja, dengan kita percaya adanya Tuhan, memiliki agama, maka dalam berperilaku, tentu akan jauh lebih bijak dibandingkan dengan mereka yang tak beragama. Karena seseorang yang akan melakukan niat jahat, pasti akan ingat jika perbuatan itu dosa dan dilarang, serta berdampak bagi dirinya sendiri di waktu yang akan datang.

5. Kehidupan Beragama yang Selaras, Toleransi Antarumat dalam Beragama

Kita tahu jika di Indonesia ini, beragam agama yang ada dan berkembang di Indonesia. Lebih dari 5 agama yang saat ini ada di Indonesia.

Indonesia sendiri mayoritas masyarakatnya ialah beragama Islam. Terlihat jika memang sebanyak 80% lebih masyarakat di Indonesia menganut agama Islam.

Sebagai negara dengan memiliki banyak agama, maka alangkah indahnya untuk kita bisa tumbuh bersama, berkembang bersama, bersatu, bisa saling toleransi antarumat beragama dalam menjalankan ibadahnya masing-masing agar jauh lebih tenang.

Contoh, jika orang Islam sedang beribadah, biarkan saja, itu ajarannya. Sebaliknya, jika non-Muslim sedang beribadah, juga biarkan saja, itu ajarannya. Inilah yang dinamakan toleransi antar umat beragama.

Dengan toleransi antar umat beragama ini, maka situasi atau kondisi yang ada di Indonesia bisa semakin kondusif, bisa nyaman dalam melaksanakan ibadahnya masing-masing.

Tidak hanya saat beribadah saja, juga dalam hari-hari besar masing-masing agama. Jika sedang berlangsung Idul Fitri, umat agama lain menghargai dan menghormatinya. Jika berlangsung Natal, umat agama lain menghargai dan menghormatinya. Begitu seterusnya, Waisak, Nyepi dan yang lain sebagainya.

Hal ini bukan tanpa alasan, agar dalam beribadah itu aman. Karena memang beribadah itu adalah suatu bentuk komunikasi secara langsung antara manusia dengan Tuhan, maka tak elok apabila proses komunikasi itu diganggu oleh oknum yang tak berkepentingan.

Rekomendasi Artikel : Peran Penting dan Tanggung Jawab WNI dalam Pelaksanaan Demokrasi Pancasila

6. Negara Memberikan Fasilitas untuk Tumbuh Kembang Agama dan Menjadi Mediator saat Terjadi Konflik Agama

Negara memiliki peran yang penting atau bisa dikatakan peran yang amat vital kaitannya dengan masalah agama di Indonesia ini.

Biarkanlah umat beragama tumbuh berkembang masing-masing sesuai ajaran dan kehendak mereka. Agama itu mengajarkan kebaikan. Banyak orang yang pindah agama, itu juga hak mereka, jangan ditahan.

Sebagai pendekatan terhadap masyarakat beragama, bisa dengan mendukung proses dakwah dari ulama (bagi umat Islam), pendeta (Kristen) dan yang lain sebagainya.

Nah jika terjadi pertikaian atau perselisihan di tengah jalan, negara tak boleh memanasi suasana, melainkan mendinginkan suasana dan menenangkan masyarakat agar tidak terlalu larut dalam masalah atau konflik yang terjadi itu.

Karena memang pada dasarnya, hal yang paling rentan di negara Indonesia ini ialah mengenai masalah agama. Jadi, sebisa mungkin, negara memaksimalkan peranannya sebagai objek vital untuk bisa mendukung umatnya tetap nyaman, aman dan damai.

Apabila konflik yang terjadi hingga berlarut-larut, maka akan memunculkan suatu image buruk bagi suatu kalangan, dan hal ini jelas sangat merugikan. Maka dari itu, pemerintah memiliki peran yang penting untuk sesegera mungkin menenangkannya.

7. Hidup Rukun, Saling Menghargai dan Saling Menghormati Antar Umat Beragama

Ini yang paling penting, "tidak ada asap kalau tidak ada api". Semua masalah itu bermula dari akar, bermula dari bawah.

Inilah pentingnya toleransi antar umat beragama, saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain.

Sebenarnya cara gampangnya begini. Jika masyarakat tak memicu pertikaian, maka tak akan timbul masalah. Isu agama ini adalah isu yang sangat sensitif, menyinggung saja bisa melebar dampaknya ke mana-mana.

Inilah pentingnya iman di setiap masyarakat, kesadaran diri setiap manusia yang mempengaruhi segala bentuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

Indahnya Indonesia ini dan akan kian maju jika masyarakatnya sadar. Negara akan aman, damai, tenteram, nyaman dan bagi orang asing yang berlibur di Indonesia juga akan merasakan kenyamanan yang sama. Maka dari itu, kita harus bangga menjadi Warga Negara Indonesia!

0 Komentar 7 Contoh Sikap Nilai-nilai Pancasila Sila ke-1

Post a Comment

KEREN! Teman-teman di sekitar kita telah berkomentar sebanyak lebih dari 1000 komentar! Sekarang giliran kalian! Ayo berkomentar!

Back To Top