Habibullah Al Faruq

Portal Situs Edukasi SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi di Jaringan Luas Indonesia

13 Feb 2018

Pengertian dan 7 Aspek Hakikat Manusia

Manusia menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di antara makhluk yang lain karena memang manusia diberikan karunia yang lebih, yakni dengan memiliki akal, pikiran dan perasaan.

Maka dari itu, dengan dibekali oleh adanya akal, pikiran dan perasaan dari Tuhan, tentunya manusia bisa memilih yang terbaik di antara mana saja yang bisa diambil di dalam hidup manusia.

Hakikat manusia juga mempunyai begitu banyak arti, seperti :
  • Makhluk yang mempunyai tenaga dalam yang bisa menggerakkan hidupnya dalam rangka memenuhi segala kebutuhan.
  • Individu yang mempunyai sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
  • Mampu mengarahkan dirinya kepada tujuan yang bersifat positif, mampu mengatur dan mengontrol dirinya, serta mampu untuk menentukan nasibnya.
  • Makhluk yang dalam proses menjadi pribadi yang berkembang dan terus berkembang, tak pernah selesai (tuntas) selama masa hidupnya.
  • Individu yang di dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha guna mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia menjadi jauh lebih baik untuk ditempati.
  • Suatu keberadaan yang memiliki potensi dengan perwujudannya menjadi ketakterdugaan dengan potensi yang tidak terbatas.
  • Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
  • Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama pada lingkungan sosial, bahkan ia tak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Kehadiran manusia pertama tak terlepas dari adanya asal-usul kehidupan di alam semesta. Asal-usul manusia menurut ilmu pengetahuan tak bisa dipisahkan dari teori mengenai spesies lain yang sudah ada sebelumnya dengan melalui proses evolusi.

Aspek Hakikat Manusia

Hakikat Manusia
Hakikat Manusia, via http://sas.rutgers.edu

1. Manusia sebagai Makhluk Tuhan

Manusia menjadi subjek yang mempunyai kesadaran dan penyadaran diri. Maka dari itu, manusia menjadi subjek yang menyadari akan keberadaannya.

Tidak hanya itu saja, manusia juga mampu untuk membedakan dirinya dengan segala sesuatu yang ada di luar dirinya (objek) selain itu, yang mana bukan saja memiliki kemampuan berpikir tentang diri dan alam di sekitarnya, melainkan juga sekaligus sadar mengenai pemikirannya.

Akan tetapi, sekalipun manusia sadar perbedaannya dengan alam jika dalam konteks keseluruhan alam semesta manusia menjadi bagian daripadanya.

Manusia berkedudukan sebagai makhluk Tuhan YME, maka dalam pengalaman hidupnya terlihat bahkan bisa kita alami sendiri adanya fenomena kemakhlukan (M.I. Soelaeman, 1998).

Fenomena kemakhlukan ini antara lain berupa pengakuan atas kenyataan adanya perbedaan kodrat dan martabat manusia daripada Tuhannya. Manusia merasakan jika dirinya memang begitu kecil dan rendah di hadapan Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Tinggi.

Manusia juga mengakui adanya keterbatasan dan ketidakberdayaan dibandingkan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Manusia serba tidak tahu, sedangkan Tuhan Serba Maha Tahu, namun manusia juga tahu betapa pedih siksaan dariNya.

Semua melahirkan rasa cemas dan rasa takut dalam diri manusia sendiri terhadap Tuhan. Akan tetapi, dibalik itu semua, diiringi juga dengan rasa hormat, rasa kagum dan rasa segan karena Tuhan yang begitu luhur dan begitu suci.

Semua itu bisa menggugah kesediaan dari manusia untuk bisa bersujud dan berserah diri kepada Sang Pencipta. Tidak hanya itu saja, menyadari akan Maha Kasih SayangNya Sang Pencipta, maka kepadaNya-lah, manusia bisa berharap dan berdoa.

Dengan demikian, dibalik dari adanya rasa cemas dan takut yang muncul, muncul juga adanya segenggam harapan yang bisa mengimplikasikan kesiapan guna mengambil tindakan yang jauh lebih baik di dalam hidupnya.

2. Manusia sebagai Kesatuan Badan-Roh

Para filsuf berpendapat yang berkenaan terhadap struktur metafisik manusia. Ada sebanyak 4 paham mengenai jawaban dari permasalahan yang muncul itu, yakni Materialisme, Idealisme, Dualisme dan paham yang mengungkap jika manusia menjadi kesatuan badan-roh.

Materialisme

Gagasan para penganut Materialisme, seperti Julien de La Mettrie dan Ludwig Feuerbach bertolak dari realita, sebagaimana yang bisa diketahui berdasar dari pengalaman diri atau observasi. Maka dari itu, alam semesta atau realitas ini tiada lain ialah serba materi, zat atau bahkan benda.

Manusia menjadi bagian dari alam semesta, sehingga manusia tak berbeda dari alam itu sendiri. Sebagai salah satu bagian dari alam semesta, manusia tetap harus tunduk terhadap hukum alam, hukum kualitas, hukum sebab-akibat atau stimulus-respon. Manusia dipandang sebagai hasil puncak mata rantai evolusi alam semesta, sehingga mekanisme tingkah laku menjadi kian efektif.

Yang esensial dari manusia itu sendiri ialah badannya, bukan dari jiwa atau rohnya. Manusia adalah apa yang nampak dari wujudnya, yang terdiri atas zat (daging, tulang dan urat syaraf).  Segala hal yang bersifat kejiwaan, spiritual atau rohaniah pada diri manusia, dipandang hanya sebagai resonansi saja dari berfungsinya badan atau organ tubuh.

Pandangan hubungan antara badan dan jiwa seperti itu dikenal sebagai Epiphenomenalisme (J.D. Butler, 1968).

Idealisme

Bertolak belakang dengan pandangan dari materialisme, penganut Idealisme menganggap jika esensi diri manusia ialah jiwa atau spirit atau rohaninya, hal ini sebagaimana yang dianut oleh Plato.

Sekalipun Plato tak begitu saja mengingkari aspek badan, namun menurut Plato, jiwa memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan badan. Dalam hubungannya dengan badan, jiwa memiliki peran sebagai pemimpin badan dan jiwa yang memiliki pengaruh terhadap badan karena badan memiliki ketergantungan terhadap jiwa.

Jiwa menjadi asas primer yang menggerakkan semua aktivitas manusia, badan tanpa adanya jiwa tak akan mempunyai daya. Pandangan mengenai hubungan badan dan jiwa itu dikenal dengan nama Spiritualisme (J.D. Butler, 1968).

Dualisme

Dalam uraian yang terdahulu, nampak adanya 2 pandangan yang saling bertolak belakang. Pandangan dari pihak pertama bersifat monis-materialis, sementara untuk pandangan pihak kedua bersifat monis-spiritualis.

C.A. Van Peursen (1982) mengemukakan paham lain yang secara tegas memiliki sifat dualistik, yaitu pandangan dari Rene Descartes. Menurut dari Descartes, esensi diri manusia terdiri atas 2 substansi, yakni badan dan jiwa.

Maka dari itu, manusia terdiri atas 2 substansi yang berbeda (badan dan jiwa) maka antara keduanya itu tak terdapat hubungan yang bisa saling mempengaruhi satu sama lain (S.E. Frost Jr., 1957), namun demikian jika di setiap peristiwa kejiwaan selalu paralel dengan peristiwa badaniah atau justru sebaliknya.

Contoh jika jiwa sedang sedih, maka secara paralel, badan juga tampak murung atau malah menangis. Pandangan yang terjadi hubungan antara badan dan jiwa itu dikenal sebagai Paralelisme (J.D. Butler, 1968).

Sebagai kesatuan badan-rohani, manusia hidup di dalam ruang dan waktu, sadar akan diri dan lingkungannya, yang memiliki berbagai macam kebutuhan, insting, nafsu dan memiliki tujuan.

Tidak hanya itu saja, manusia juga memiliki potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan potensi dalam berbuat baik, potensi untuk bisa berpikir (cipta), potensi berperasaan (rasa), potensi dalam berkehendak (karsa) dan memiliki potensi untuk bisa berkarya.

Ada juga dalam eksistensinya, manusia mempunyai aspek indivualitas, sosialitas, moralitas, keberbudayaan dan keberagaman. Implikasinya, maka manusia tersebut berinteraksi atau berkomunikasi, mempunyai historistas dan dinamika.

3. Manusia sebagai Makhluk Individu

Sebagaimana yang sudah Anda alami jika memang manusia sadar akan keberadaan dirinya sendiri, kesadaran manusia akan dirinya sendiri juga menjadi suatu bentuk perwujudan individualitas manusia.

Manusia sebagai individu atau sosok pribadi yang menjadi kenyataan paling riil dalam kesadaran manusia. Sebagai makhluk individu, manusia menjadi satu kesatuan yang tak bisa dibagi, mempunyai perbedaan dengan manusia yang lain, sehingga memiliki karakteristik atau sifat yang unik dan menjadi subjek yang otonom.

Setiap manusia memiliki dunianya sendiri dan tujuan hidupnya sendiri. Masing-masing tentu sudah secara sadar memiliki upaya atau keinginan yang kuat guna menunjukkan eksistensinya, ingin menjadi dirinya sendiri atau bebas bercita-cita untuk menjadi seseorang tertentu dan masing-masing bisa mengungkapkan jika, "inilah aku" di tengah segala kehidupan yang dijalaninya.

Setiap manusia bisa mengambil distansi, menempati posisi, berhadapan, menghadapi, memasuki, memikirkan, bebas dalam mengambil sikap, hingga bebas dalam mengambil suatu tindakan atas tanggung jawabnya sendiri atau otonom. Maka dari itu, manusia menjadi subjek dan tidak sebagai objek.

4. Manusia sebagai Makhluk Sosial

Manusia menjadi makhluk individual, melainkan juga manusia tak hidup serta-merta secara sendirian saja, karena tidak mungkin hidup sendirian dan tidak pula hidup untuk dirinya sendiri saja. Manusia hidup di dalam keterpautan atau kesinambungan terhadap sesama.

Di dalam hidup bersama dengan antar sesama, setiap individu mampu menempati kedudukan atau status tertentu. Di samping itu juga, setiap individu memiliki dunia dan tujuan hidupnya masing-masing, yang mana juga memiliki dunia bersama dan tujuan hidup bersama dengan sesama.

Selain dengan adanya rasa kesadaran diri yang tercipta, ada juga kesadaran sosial pada manusia. Melalui hidup dengan sesama inilah, manusia bisa mengukuhkan eksistensinya. Sehubungan dengan hal ini, Aristoteles mengungkap jika manusia menjadi makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat.

Setiap manusia merupakan pribadi (individu) dan adanya hubungan pengaruh timbal balik yang terjadi antara individu dengan sesama, maka idealnya menjadi situasi hubungan yang terjadi antara individu dan terhadap sesama, tidak menjadi hubungan antara subjek dan objek, melainkan hubungan yang terjalin atas subjek dengan subjek.

5. Manusia sebagai Makhluk Berbudaya

Manusia memang mempunyai inisiatif dan kreativitas tersendiri untuk menciptakan suatu kebudayaan, hidup yang berbudaya dan membudaya. Kebudayaan bukanlah suatu hal yang ada di luar manusia, melainkan hakikatnya itu sendiri juga meliputi perbuatan manusia.

Manusia tak akan terlepas dari yang namanya kebudayaan, bahkan manusia juga baru menjadi manusia karena dan bersama dengan kebudayaannya (C.A. Vanpeursen, 1957).

Kebudayaan tidak memiliki sifat yang statis, melainkan memiliki sifat dinamis. Kodrat dinamika yang ada di dalam diri manusia mengimplikasikan adanya perubahan dan pembaharuan terhadap kebudayaan. Hal ini tentu saja didukung oleh adanya pengaruh kebudayaan masyarakat atau dari bangsa lain terhadap kebudayaan masyarakat yang saling bersangkutan.

Selain itu, mengingat adanya dampak positif dan dampak negatif dari kebudayaan terhadap manusia, kadang masyarakat terombang-ambing diantara adanya 2 relasi kecenderungan.

Di satu pihak ada yang melestarikan bentuk lama atau disebut juga dengan tradisi, sementara untuk di lain sisi ada yang terdorong untuk menciptakan hal yang baru atau disebut juga dengan inovasi.

6. Manusia sebagai Makhluk Susila

Dalam uraian yang terdahulu, sudah dikemukakan jika manusia sadar akan diri dan lingkungannya, memiliki potensi dan kemampuan untuk bisa berpikir dan berkehendak dengan bebas, bertanggung jawab, hingga memiliki potensi untuk berlaku atau berbuat baik.

Maka dari itulah, eksistensi manusia mempunyai aspek kesusilaan. Sebagai makhluk yang otonom atau makhluk yang mempunyai kebebasan, manusia selalu dihadapkan pada suatu alternatif tindakan yang harus dipilih.

Adapula kebebasan berbuat ini juga selalu memiliki hubungan dengan norma moral dan nilai moral yang harus dipilih. Karena memang manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan perbuatannya secara otonom, maka selalu ada penilaian moral atau tuntutan pertanggung jawaban atas segala perbuatan yang sudah dilakukan.

7. Manusia sebagai Makhluk Beragama

Aspek keberagaman menjadi salah satu karakteristik yang cukup esensial, eksistensi manusia yang terungkap di dalam bentuk pengakuan atau keyakinan atas kebenaran dari agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku.

Hal ini ada dalam diri manusia manapun, baik itu dalam rengant waktu yang dulu -sekarang, atau yang akan datang, maupun dalam rentang geografis, di mana manusia itu berada. Keberagaman menyiratatkan adanya pengakuan dan pelaksanaan yang sungguh dari suatu agama.

Di lain pihak, Tuhan juga sudah menurunkan wahyu melalui utusanNya dan sudah menggelar tanda di alam semesta untuk bisa dipikirkan oleh manusia, sehingga manusia menjadi beriman dan bertaqwa kepadaNya.

Manusia hidup beragama karena agama itu bisa menyangkut mengenai berbagai macam masalah yang bersifat mutlak, maka pelaksanaan keberagaman akan tampak di dalam kehidupan, sesuai agama yang dianut oleh masing-masing individu tersebut.

Hal ini baik berkenaan dengan sistem keyakinan, sistem peribadatan, ataupun berkenaan dengan pelaksanaan tata kaidah yang bisa mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam.

0 Komentar Pengertian dan 7 Aspek Hakikat Manusia

Post a Comment

KEREN! Teman-teman di sekitar kita telah berkomentar sebanyak lebih dari 1000 komentar! Sekarang giliran kalian! Ayo berkomentar!

Back To Top