Habibullah Al Faruq

Portal Situs Edukasi SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi di Jaringan Luas Indonesia

9 Apr 2018

4 Dimensi Hakikat Manusia dan Pengembangannya

Dimensi Hakikat Manusia - Manusia atau orang, bisa diartikan berbeda, entah itu dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran.

Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo Sapiens, suatu spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi oleh otak dengan berkemampuan tinggi.

Dalam hal atau masalah rohani, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang beraneka macam atau bervariasi yang mana dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga sering dibandingkan dengan ras lain.

Sementara itu, dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasar dari penggunaan bahasa, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk dan perkembangan teknologi, terutama berdasar dari kemampuan dalam membentuk suatu kelompok dan suatu lembaga untuk mendapat dukungan satu sama lain beserta dengan pertolongan atau bantuan.

Penggolongan manusia itu sendiri berdasar atas :
  • Jenis kelamin
  • Usia
  • Ciri-ciri fisik
  • Afiliasi sosio-politik-agama/kepercayaan
  • Warga negara
  • dan lain sebagainya

Daftar Isi "4 Hakikat Manusia dan Pengembangannya"
Dimensi Hakikat Manusia
Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia

Dimensi Hakikat Manusia

Dimensi Hakikat Manusia
Dimensi Hakikat Manusia, via softwaregenerasi2.blogspot.com

1. Dimensi Individual

Jadi, manusia itu merupakan sosok manusia yang monodualis, ciptaan Tuhan yang dikaruniai status sebagai Khalifah Allah di muka bumi ini. Bayi dianugerahkan dengan keadaan jasmani yang lemah, namun memiliki potensi jasmani berupa konstruksi tubuh yang lengkap dan rohani berupa itu daya cipta, rasa, karsa, intuisi, hingga bakat.

Faktor potensi bawaan inilah yang mampu membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lain, yang memiliki sifat unik, yang mana bisa berkembang dengan adanya suatu bentuk pengaruh dari lingkungan. Sehingga, seorang individu bisa menemukan rasa kepribadiannya.

Dimensi individual merupakan kepribadian seseorang yang menjadi suatu keutuhan yang tak lagi bisa dibagi-bagi. Seorang pakar pendidikan, M.J. Lavengeld, mengungkap jika setiap orang mempunyai individualitas.

Individualitas di sini maksudnya adalah 2 anak kembar yang berasal dari satu telur yang lazim diungkap, seperti pinang dibelah dua dan sulit untuk dibedakan satu sama lain, yang mana memang kelihatannya serupa namun tak sama, apalagi identik. Hal ini berlaku pada sifat fisiknya ataupun dalam hidup kejiwaannya (rohani).

Setiap individu itu memiliki sifat yang unik, tidak ada bandingannya, dengan adanya individualitas tersebut, maka setiap orang bebas untuk berkehendak, berperasaan, menggapai cita-cita, kecenderungan, semangat dan daya tahan yang berbeda-beda.

Salah satu bentuk contoh sederhananya saja, 2 siswa di kelas yang memiliki nama sama, tentu tak akan pernah bersedia untuk disamakan satu sama lain, yang berarti, maksudnya, masing-masing ingin mempertahankan ciri khasnya sendiri yang dimiliki.

M. J. Lavengeled juga mengungkap jika setiap anak mempunyai dorongan tersendiri untuk bersikap mandiri dengan kuat, walaupun di sisi lain pada anak terdapat rasa yang tak berdaya, sehingga membutuhkan pihak lain, yang dimaksud di sini adalah pendidik yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk bergantung dalam memberikan perlindungan dan bimbingan.

Sifat-sifat yang sebagaimana telah digambatkan di atas secara potensial memang sudah dimiliki sejak lahir dan perlu untuk ditumbuhkembangkan melalui adanya suatu pendidikan, sehingga bisa menjadi suatu kenyataan. Sebab, tanpa adanya pembinaan melalui pendidikan, benih-benih individualitas yang sangat berharga tersebut akan memungkinkan terbentuknya kepribadian unik dan akan tetap tinggal laten.

Kesanggupan untuk memikul tanggung jawabnya sendiri juga menjadi ciri-ciri yang esensial dari adanya individualitas pada diri manusia. Dengan kata lain, kepribadian seseorang tak akan terbentuk dengan sebagaimana mestinya, sehingga seseorang tak akan mempunyai warna kepribadian yang khas sebagai miliknya.

Apabila terjadi hal yang demikian, seseorang menjadi tak memiliki kepribadian yang otonom dan orang yang seperti ini justru tak akan mempunyai pendirian dan akan terbawa dengan sangat mudah oleh arus massa, padahal, fungsi utama pendidikan ialah membantu para peserta didik untuk membentuk kepribadiannya.

Sementara itu, pola pendidikan yang cenderung bersifat demokratis, dipandang cocok untuk mendorong tumbuh kembang potensi dari individualitas seseorang.

2. Dimensi Sosial

Dimensi sosial pada diri manusia akan terlihat sangat jelas pada dorongan untuk bisa bergaul satu sama lain, dengan adanya dorongan untuk bergaul tersebutlah, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Manusia itu sendiri memang dilahirkan sebagai suku bangsa tertentu dengan adat kebudayaan tertentu pula.

Sebagai anggota suatu masyarakat, seseorang memiliki kewajiban untuk memiliki peran dan menyesuaikan diri serta melakukan kerja sama terhadap masyarakat. Masih begitu banyak contoh yang lain yang menunjukkan betapa dorongan sosial tersebut yang kian kuat, tanpa orang sadari, sebenarnya ada alasan yang cukup kuat ikut menopangnya.

Seorang filosof, Immanuel Kant, mengungkap jika manusia hanya menjadi manusia apabila berada di antara manusia yang lain, maksudnya, tak ada manusia yang bisa hidup seorang diri, tanpa membutuhkan bantuan dan uluran tangan dari orang lain.

Seseorang bisa mengembangkan kegemaran, sikap, cita-cita di dalam berbagai macam interaksi terhadap sesama. Tidak hanya itu saja, seseorang juga memiliki kesempatan besar untuk belajar dari orang lain, mengidentifikasi sifat yang dikagumi dari orang lain untuk dimilikinya, serta menolak sifat yang tak dicocokinya.

Hanya dengan berinteraksi terhadap sesama, dalam saling menerima dan saling memberi, seseorang akan sadar dan menghayati akan kemanusiaannya. Banyak bukti jika manusia tak akan menjadi manusia jika tak berada di antara manusia.

3. Dimensi Susila

Susila berasal dari kata su dan sila, yang memiliki arti kepantasan lebih tinggi. Namun, di dalam kehidupan bermasyarakat, orang tak cukup hanya berbuat yang pantas jika di dalam yang pantas atau sopan tersebut misal terkandung kejahatan yang terselubung.

Dimensi susila ini juga bisa disebut sebagai keputusan yang lebih tinggi. Kesusilaan ini diartikan mencakup dari etika dan etiket. Etika adalah persoalan kebijakan, sedangkan untuk etiket adalah persoalan kepantasan dan kesopanan.

Pada hakikatnya, manusia memang mempunyai kemampuan dalam mengambil suatu keputusan susila, serta melaksanakan juga. Sehingga, dikatakan jika manusia itu adalah makhluk susila.

Persoalan akan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai kehidupan. Susila ini berkembang, sehingga mempunyai perluasan arti menjadi kebaikan yang jauh lebih sempurna.

Manusia dengan kemampuan akal yang dimilikinya memungkinkan dalam menentukan suatu manakah yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Dengan adanya pertimbangan nilai budaya yang ikut serta dijunjung, memungkinkan manusia untuk berbuat dan bertindak dengan susila.

Driyarkara, mengartikan manusia susila sebagai manusia yang mempunyai nilai-nilai, menghayati dan melaksanakan nilai tersebut di dalam suatu perbuatan.

Nilai-nilai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia, karena mengandung makna kebaikan, keluhuran, kemuliaan dan lain sebagainya, sehingga bisa diyakini dan dijadikan pedoman di dalam hidup. Pendidikan kesusilaan berarti menanamkan kesadaran dan kesediaan dalam melakukan suatu bentuk kewajiban, di samping hak pada para peserta didik.

4. Dimensi Agama

Pada hakikatnya, manusia merupakan makhluk yang religius. Beragama menjadi suatu kebutuhan manusia, karena manusia merupakan makhluk yang lemah, sehingga membutuhkan tempat untuk bernaung atau bertopang dan agama menjadi sandaran vertikal manusia.

Manusia ialah makhluk religius yang mana dianugerahi oleh ajaran yang dipercaya di mana didapat melalui bimbingan nabi, demi kesehatan tan demi keselamatan. Manusia sebagai makhluk beragama memiliki kemampuan dalam menghayati pengalaman diri dan dunianya, menurut dari agama masing-masing.

Pemahaman agama didapatkan melalui pelajaran agama, sembayang, doa-doa, maupun melalui meditasi, komitmen aktif dan praktik ritual.

Jauh dekatnya hubungan, ditandai dengan tinggi rendah dari iman dan ketakwaan manusia yang bersangkutan.

Di dalam masyarakat Pancasila, walaupun agama dan kepercayaan yang dianut itu berbeda-beda, diupayakan tercipta kehidupan beragama yang mencerminkan adanya saling pengertian, saling menghargai, kedamaian, ketenteraman dan persahabatan.

Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia

Pengembangan Hakikat Manusia
Pengembangan Hakikat Manusia, via teknikhidup.com

Usaha pengembangan hakikat manusia dalam dimensi individual, sosial, susila dan agama, berangkat dari adanya anggapan dasar jika manusia memang secara potensial mempunyai semua dimensi itu, yang memungkinkan dan harus bisa dikembangkan secara bertahap, terarah dan terpadu, dengan melalui adanya suatu pendidikan, sehingga bisa menjadi aktual.

1. Pengembangan Manusia sebagai Makhluk Individu

Konsep dasar pengembangan manusia sebagai makhluk individu, manusia sebagai bagian yang tak akan terpisahkan dari kesemestaan, mampu mengembangkan relasi dan interaksi terhadap orang lain secara selaras, serasi, seimbang, tanpa harus kehilangan jati dirinya sendiri.

Pengembangannya sebagai seorang peserta didik, diselenggarakan dalam lingkungan pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat, pengembangan yang menyangkut akan aspek jasmani dan rohani, cipta-rasa-karsa, sebagai dimensi individual.

2. Pengembangan Manusia sebagai Makhluk Sosial

Manusia sejak lahit hingga masa ajalnya, perlu dibantu oleh orang lain, Manusia itu sendiri sebisa mungkin harus merasa sadar jika dirinya terpanggil untuk selalu berbuat baik bagi orang lain dan masyarakat.

Pengembangan tersebut harus dimulai sejak dari keluarga, sekolah dan masyarakat, maka dari itu, nilai/norma/kaidah yang berlaku di dalam keluarga juga perlu dijunjung tinggi di sekolah dan di masyarakat.

3. Pengembangan Manusia sebagai Makhluk Susila

Hanya manusia saja yang mampu untuk menghayati norma dan nilai di dalam kehidupan, sehingga bisa menetapkan pilihan tingkah laku yang baik dan yang buruk.

Bagi manusia Indonesia, norma dan nilai yang perlu dikembangkan ialah nilai universal yang diakomodasi dan diadaptasi dari nilai khas yang mana sudah terkandung dengan baik di dalam budaya bangsa.

Sebagai manusia Indonesia yang ideal adalah manusia yang mempunyai suatu gagasan, ide, dan pikiran yang mana sudah terkristal di dalam kelima nilai dasar Pancasila tersebut.

4. Pengembangan Manusia sebagai Makhluk Beragama

Sementara itu, ada pihak yang jauh lebih mengutamakan terciptanya suasana penghayatan keagamaan, lebih dari pengajaran keagamaan.

Maka dari itu, yang perlu untuk diutamakan ialah contoh sikap teladan dari guru, orang tua, maupun pendidik yang lain, disertai dengan pilihan metode pendidikan yang tepat dan ditunjang dengan kemudahan fasilitas yang memadai. Demikian juga di sekolah dan di lingkup masyarakat.

0 Komentar 4 Dimensi Hakikat Manusia dan Pengembangannya

Post a Comment

KEREN! Teman-teman di sekitar kita telah berkomentar sebanyak lebih dari 1000 komentar! Sekarang giliran kalian! Ayo berkomentar!

Back To Top