Habibullah Al Faruq

Portal Situs Edukasi SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi di Jaringan Luas Indonesia

25 May 2018

(Kupas Tuntas) Memahami Pengertian Etika Lebih Dalam



Dalam pergaulan hidup di lingkungan masyarakat, bernegara, ataupun hingga tingkat internasional, tentu dibutuhkan adanya suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bisa bergaul satu sama lain.

Sistem pengaturan dalam bergaul inilah yang menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Maksud dari pedoman pergaulan ialah tak lain guna menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat, sehingga mereka bisa tetap senang, tenang, tenteram, terlindungi, tanpa harus dirugikan kepentingannya sendiri dan bisa terjamin sehingga perbuatan yang dilakukan sesuati dengan adat yang berlaku dan tak bertentangan terhadap hak asasi manusia.

Hal inilah yang mendasari dari arti etika atau definisi etika yang berkembang di lingkungan masyarakat kebanyakan.

Lantas, yang menjadi pertanyaan, apa yang dimaksud dengan etika? Apa itu etika dan arti yang mendalam mengenai topik yang satu ini?

Pengertian Etika

Pengertian Etika

Etika (Yunani Kuno : "ethikos", memiliki arti : timbul dari kebiasaan) merupakan suatu hal di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari mengenai nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai dari suatu standar dan penilaian moral.

Etika ini sendiri mencakup berbagai macam analisis dan penerapan konsep, seperti halnya benar atau salah, baik atau buruk, hingga tanggung jawab.

Jadi, arti atau definisi etika adalah aturan mengenai sikap atau perilaku yang ada di lingkungan, sesuai dengan kebiasaan dari tempat tersebut, termasuk seperti sopan santun dalam bertindak ataupun berbicara.

Yang termasuk etika, seperti :
  • Menghargai yang muda dan menghormati yang tua
  • Mengucap salam apabila bertemu
  • Mendengarkan penjelasan guru dengan baik
  • Tidak heboh sendiri saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung

Sementara itu, yang termasuk ke dalam tidak ber-etika, seperti :
  • Mengucapkan kata yang kasar dan kotor
  • Memotong pembicaraan orang lain yang belum selesai berbicara
  • Tidak menghargai perbedaan dengan membentak dan men-judge
  • Menutup pintu dengan kasar saat masuk atau keluar ruangan

Secara metodologis, tak setiap hal menilai suatu perbuatan bisa dikatakan dengan etika. Etika membutuhkan sikap yang kritis, metodis dan sistematis dalam melakukan refleksi. Maka dari itulah, etika bukan merujuk pada suatu ilmu.

Sementara itu, etika terbagi menjadi sebanyak 3 bagian utama :
  1. Meta-etika (studi konsep etika)
  2. Etika normatif (studi penentuan nilai etika)
  3. Etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika)

Rekomendasi artikel : Menguak 7 Teori-teori Etika, Manfaat dan Kritiknya

Jenis-jenis Etika

Etika Filosofis

Secara harfiah, etika ini bisa dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan filsafat atau berpikir, yang mana dilakukan oleh manusia. Karena itu, etika sebenarnya bagian dari filsafat; etika lahir dari filsafat.

Etika termasuk ke dalam filsafat, karena itu berbicara etika tak bisa dilepaskan dari adanya filsafat. Maka dari itu, jika ingin mengetahui unsut etika, maka kita harus bertanya juga perihal unsur-unsur filsafat itu sendiri.

Etika Teologis

Ada sebanyak 2 hal yang perlu untuk diingat, yang mana memiliki kaitan dengan etika teologis.

Yang pertama, etika teologis bukan hanya milik agama tertentu saja, melainkan juga setiap agama bisa memiliki etika teologisnya masing-masing. (Baca juga : Hubungan Etika dan Agama yang Tak Bisa Dipisahkan)

Yang kedua, etika teologis adalah bagian dari etika secara umum, karena itu ada banyak unsur yang terdapat di dalamnya yang ada di etika secara umum dan bisa dimengerti setelah memahami etika secara umum.

Secara umum, etika teologis adalah etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi teologis. Definisi inilah yang bisa dijadikan sebagai kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika teologis.

Etika = Moral?

Istilah ethos dimaknai sebagai watak kesusilaan atau adat kebiasaan, yang biasanya memiliki kaitan cukup erat dengan moral.

Moral itu sendiri berasal dari kata latin "mos" (jamaknya adalah mores) yang memiliki arti adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan berbagai macam perbuatan baik (kesusilaan) dan menghindari segala bentuk tindakan yang buruk.

Maka, dengan demikian etika dan moral ternyata mempunyai makna yang sama, namun pada dasarnya, etika dan moral tersebut mempunyai suatu perbedaan dalam implementasi.

Moral atau moralitas dipergunakan untuk menilai perbuatan yang dilakukan, sedangkan untuk etika sendiri digunakan sebagai sistem nilai yang berlaku. Artinya, etika adalah ilmu untuk menjelaskan kaidah-kaidah moral.

Etika = Etiket?

Seringkali muncul begitu banyak pemahaman mengenai etika dan etiket yang saling dicampur adukkan satu sama lain. Padahal, keduanya tersebut memiliki perbedaan.

Etika memiliki kaitan dengan moral, sedangkan etiket memiliki kaitan dengan nilai sopan santun, tata krama di dalam kehidupan sosial.

Walaupun memang demikian, ternyata keduanya sama-sama terkait dengan perilaku manusia yang memperhatikan norma-norma etis. Etiket secara definitf adalah kumpulan tata cara atau tata aturan kesopanan yang telah disepakati bersama untuk dijadikan suatu nilai bersama pada suatu kelompok.

Hubungan antara Etika, Moral dan Hukum

Hubungan antara Etika, Moral dan Hukum

Nilai-nilai moral mengandung berbagai macam nasihat, wejangan, petuah, peraturan, dan perintah secara turun-temurun melalui suatu budaya tertentu. Sementara etika adalah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma manusia yang mampu menentukan dan terwujud dalam sikap dan perilaku hidup manusia itu sendiri.

Karena memang etika dan moral itu saling mempengaruhi, maka keduanya mempunyai hubungan yang erat dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Norma sebagai salah satu bentuk perwujudan dari etika dan moral yang sudah tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat.

Norma tersebut bisa berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Walaupun memang tiap daerah memiliki norma yang tidak sama, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mengatur kehidupan bermasyarakat yang jauh lebih baik lagi, sehingga bisa tercipta suasana yang mendukung dalam hidup bermasyarakat.

Sedangkan hukum adalah suatu bagian yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat yang memiliki etika, moral dan norma-norma yang ada di dalamnya. Hukum memiliki peran sebagai 'penjaga' agar etika, moral dan norma-norma yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat bisa tetap berjalan dengan baik.

Jika memang terjadi suatu bentuk pelanggaran terhadap etika, moral dan norma, maka hukum di sini berperan penting untuk memberikan sanksi.

Sanksi inilah yang bisa berupa sanksi sosial sebagai salah satu bentuk akibat dari pelanggaran norma-norma sosial masyarakat dan sanksi hukum jika norma-norma yang dilanggar juga termasuk di dalam wilayah peraturan hukum yang berlaku.

Kesimpulan

Dengan demikian, maka kita bisa menyimpulkan jika etika adalah cabang ilmu yang berisikan sistem dan pedoman nilai-nilai yang berkaitan dengan konsepsi benar dan salah yang berlaku dan dihayati oleh kelompok pada suatu komunitas.

Dengan adanya konsepsi ilmu sebagai kajian yang relatif, maka bisa jadi nilai-nilai di dalam etika akan berubah, berkembang dan mungkin saja berbeda nilai baik buruknya pada komunitas yang berbeda.

0 Komentar (Kupas Tuntas) Memahami Pengertian Etika Lebih Dalam

Post a Comment

KEREN! Teman-teman di sekitar kita telah berkomentar sebanyak lebih dari 1000 komentar! Sekarang giliran kalian! Ayo berkomentar!

Back To Top