Habibullah Al Faruq

Portal Situs Edukasi SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi di Jaringan Luas Indonesia

10 Jun 2018

Sistem Penilaian Etika dan 4 Alirannya



Etika dalam implementasinya memang bisa mempengaruhi segala bentuk kehidupan manusia. Etika mampu memberikan pedoman perilaku bagaimana seseorang tersebut bisa melakukan kehidupannya dengan berbagai rangkaian tindakan sehari-hari.

Hal ini berarti etika bisa membantu diri manusia dalam mengambil suatu sikap dan bertindak dengan tepat saat menjalani hidup sejalan dengan kaidah norma yang berlaku terhadap suatu kelompok di mana manusia itu berada.

Norma sendiri menjadi suatu nilai yang mampu mengatur dan memberikan suatu pedoman untuk setiap orang atau masyarakat dalam berperilaku, di mana norma atau kaidah yang menjadi standar harus bisa dipatuhi dalam suatu kelompok tertentu.

Etika pada akhirnya bisa membantu dalam mengambil suatu keputusan mengenai tindakan apa saja yang perlu dilakukan dan yang perlu dipahami bersama, jika etika ini bisa diterapkan dalam segala macam aspek atau sisi kehidupan.

Sistem Penilaian Etika

Sistem Penilaian Etika

Dalam menilai etika, maka berlaku sistem yang mengaturnya, diantaranya sebagai berikut :
  • Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah terhadap perbuatan yang baik ataupun jahat, susila ataupun tidak susila (asusila).
  • Perbuatan atau kelakuan seseorang yang sudah menjadi sifat untuknya atau yang sudah benar-benar mendarah daging, inilah yang disebut dengan akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya di dalam jiwa, apabila telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan, maka namanya adalah pekerti. Jadi, suatu budi pekerti, pangkal penilaiannya ialah dari dalam jiwa, dari semasih yang berupa angan-angan, cita-cita, niat hati, hingga ia lahir keluar berupa perbuatan yang nyata.

Burhanuddin Salam menjelaskan jika suatu perbuatan itu sendiri dinilai pada sebanyak 3 tingkat :
  • Tingkat yang pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa suatu rencana yang timbul di dalam hati, niat.
  • Tingkat yang kedua, setelah lahir maka menjadi perbuatan yang nyata, yakni yang dinamakan dengan pekerti.
  • Tingkat yang ketiga, akibat atau hasil dari perbuatan tersebut, yakni baik ataupun buruk.

Dari sistematika yang telah dijelaskan di atas, kita bisa melihat dengan jelas jika Etika Profesi menjadi bidang etika khusus atau terapan yang menjadi produk dari etika sosial.

Kata hati atau niat biasa juga disebut dengan karsa atau kehendak, kemauan. Isi dari karsa itulah yang nantinya direalisasikan dalam perbuatan. Dalam merealisasikan ini, terdapat sebanyak 4 variabel yang terjadi :
  • Tujuan baik, namun cara dalam mencapai atau menggapainya yang tak baik.
  • Tujuan tidak baik, cara menggapainya dengan terlihat baik.
  • Tujuan tidak baik, cara menggapainya juga dengan tidak baik.
  • Tujuan baik, dan cara menggapainya juga dengan cara yang baik.

Setelah melihat tingkatan dan tujuan dari penilaian etika, maka selanjutnya di bawah ini akan dijelaskan mengenai beberapa penilaian baik dan buruk menurut aliran Eudaemonisme, Positivisme, Naturalisme, hingga Idealisme. (Baca juga : Hubungan Etika dan Agama yang Tak Bisa Dipisahkan)

Rekomendasi artikel : Menguak 7 Teori-teori Etika, Manfaat dan Kritiknya

Penilaian Baik dan Buruk Berdasar Aliran

Penilaian Baik dan Buruk

1. Aliran Eudaemonisme

Eudaemonisme merupakan pandangan hidup yang menganggap jika kebahagiaan menjadi salah satu tujuan dari segala tindakan manusia. Di dalam eudaemonisme, kebahagiaan yang dimaksud bukan hanya terbatas pada perasaan subjektif, seperti halnya tenang maupun gembira sebagai aspek emosional.

Melainkan, lebih mendalam dan secara objektif menyangkut akan pengembangan seluruh aspek kemanusiaan suatu individu. Dengan demikian, eudaemonisme juga seringkali disebut dengan etika pengembangan diri atau kesempurnaan hidup.

Menurut Aristoteles, untuk mencapai eudaemonisme ini dibutuhkan sebanyak 4 hal, yakni :
  • Kesehatan, kebebasan, kemerdekaan, kekayaan dan kekuasaan
  • Kemauan
  • Perbuatan baik
  • Pengetahuan batiniah

2. Aliran Positivisme

Aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang baik dan benar, dengan menolak segala aktivitas atau kegiatan yang berkenaan dengan metafisik. Sesungguhnya, aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis, yang dijadikan suatu sarana dalam mendapatkan pengetahuan.

3. Aliran Naturalisme

Yang menjadi ukuran dari baik ataupun buruk ialah "apakah sesuai dengan keadaan alam", jika yang alami itu dikatakan baik, sebaliknya yang tak alami maka akan dipandang buruk.

Jean Jacques Rousseau mengemukakan jika kemajuan, pengetahuan dan kebudayaan mampu menjadi perusak alam semesta.

4. Aliran Idealisme

Ungkapan yang begitu terkenal dari aliran yang satu ini ialah "segala yang ada hanyalah yang tiada", sebab yang ada itu hanya perwujudan dari alam pikiran atau tiruan.

Maka, sebaik apapun tiruan, tak akan seindah aslinya (ide). Jadi, yang baik itu hanya apa yang ada di dalam ide tersebut.

0 Komentar Sistem Penilaian Etika dan 4 Alirannya

Post a Comment

KEREN! Teman-teman di sekitar kita telah berkomentar sebanyak lebih dari 1000 komentar! Sekarang giliran kalian! Ayo berkomentar!

Back To Top