Habibullah Al Faruq

Portal Situs Edukasi SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi di Jaringan Luas Indonesia

12 Jun 2018

Menguak 7 Teori-teori Etika, Manfaat dan Kritiknya



Semangat utama dalam menyusun konsep tentang etika ialah prinsip reflektif dan introspeksi yang menjadi "golden rule" dari pergaulan antarmanusia, yakni "perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan juga oleh orang tersebut".

Prinsip dasar tersebut mampu memberikan kesadaran diri jika etika muncul saat 2 atau bahkan lebih orang yang mampu saling menyepakati suatu konsensus secara bersama mengenai norma-norma sosial dengan seimbang. Hal ini memang benar-benar dibutuhkan karena setiap orang mempunyai kepentingan yang unik dan bahkan bisa saja bertentangan terhadap kepentingan orang lain.

Di sinilah, maka dibutuhkan suatu nilai bersama yang mampu dijadikan sebuah jalan tengah untuk perbedaan dari setiap kepentingan yang ada.

Secara umum, teori-teori mengenai etika berkembang yang menjadi dasar penalaran rasional yang terbatas, terhadap pencapaian kepentingan atau tujuan hidup dari manusia itu sendiri. Dalam kajian filsafat, ada begitu banyak sistem atau teori mengenai etika akan hakikat moralitas dan fungsi pentingnya di dalam kehidupan manusia.

Teori-teori Etika

Teori-teori Etika

1. Egoisme

Pada dasarnya, setiap orang itu hanya akan mempedulikan kepentingan pribadi atau kepentingannya diri sendiri. Apabila ada 1 atau 2 tingkah laku yang memberikan keuntungan untuk orang lain, sebenarnya itu bukan niat yang sesungguhnya untuk melakukan hal atau tindakan tersebut.

Tindakannya yang mampu memberi manfaat terhadap orang lain lebih didasari dengan adanya pertimbangan jika perbuatan atau tingkah laku tersebut yang pada akhirnya bisa memberikan manfaat kepada dirinya sendiri.

Rachels (2004), memperkenalkan sebanyak 2 konsep yang berhubungan dengan egoisme, yaitu :
  • Egoisme psikologis (suatu teori yang menjelaskan jika semua tindakan manusia tersebut dimotivasi oleh adanya kepentingan untuk berkutat diri), dan
  • Egoisme etis (suatu tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri)

Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri-ciri mengabaikan atau justru malah bisa merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri sendiri tak selalu merugikan kepentingan milik orang lain.

2. Hedonisme

Untuk konsep yang satu ini, pada dasarnya dikatakan jika secara kodrati, manusia itu hanya mencari kesenangan dan berusaha atau berupaya untuk menghindari ketidaksenangan di dalam hidup. Secara logis, perilaku dan tindakan manusia begitu banyak didorong oleh kesenangannya saja.

Standar moral dan etika akan baik jika seseorang merasa senang dengan adanya kondisi tersebut, dan sebaliknya, dikatakan etika atau moral yang tak sejalan jika kondisi yang ada malah menghadirkan ketidaksenangan bagi dirinya.

Dalam konteks ini, maka tepat apabila manusia dikatakan sebagai hedonisme, karena memiliki kaitan yang cukup erat dengan egoisme.

3. Utilitarianisme

Teori ini mampu mengungkap jika suatu tindakan yang dianggap baik jika mampu memberikan manfaat untuk sebanyak mungkin anggota kelompok yang ada.

Dengan demikian, maka teori yang satu ini memiliki prinsip jika tindakan harus dinilai dengan benar atau salah, hanya dari konsekuensi atau akibat yang terjadi dari suatu tindakan tersebut.

Untuk teori ini sendiri dianggap jauh lebih relevan dengan norma-norma kebersamaan yang berlaku di masyarakat, karena memiliki ragam kepentingan, dibandingkan hanya dengan egoisme dan hedonisme.

Perbedaan dari paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis tersebut terletak pada siapa yang mendapatkan manfaatnya. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sementara untuk utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan banyak orang (kepentingan masyarakat atau kepentingan bersama).

4. Deontologi

Teori ini sendiri mewajibkan untuk setiap orang berbuat kebaikan. Berbeda halnya dengan utilitarianisme, maka untuk deontologi ini justru menjadi tindakan etis yang sama sekali tak memiliki hubungan dengan tujuan atau konsekuensi atau akibat dari suatu tindakan.

Pada intinya ialah, etis tidaknya suatu perbuatan lebih didasari terhadap maksud atau niat dari si pelaku perbuatan itu sendiri.

Suatu perbuatan tak pernah menjadi baik karena memang hasilnya baik. Hasil baik tak pernah dijadikan suatu alasan untuk membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya di kisah terkenal Robinhood yang merampok kekayaan orang-orang kaya dan hasil yang didapat tersebut diberikan atau dibagikan kepada orang-orang miskin.

5. Hak

Dalam pemikiran moral yang terjadi dewasa ini, barangkali teori hak menjadi pendekatan yang cukup banyak dipergunakan untuk melakukan evaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Sebenarnya, teori hak menjadi aspek dari teori deontologi, karena memiliki kaitan dengan kewajiban.

Malah, bisa dikatakan jika hak dan kewajiban bagai 2 sisi dari uang logam yang sama. Dalam teori etika dulu diberikan terkanan terbesar pada kewajiban. Akan tetapi, untuk sekarang, kita malah mengalami situasi atau keadaan yang berbalik, karena sekarang, hak paling banyak ditonjolkan.

Walaupun teori hak ini sebetulnya memang berakar dari deontologi, namun untuk sekarang bisa mendapati suatu identitas tersendiri dan karena itu juga pantas dibahas tersendiri atau terpisah. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia yang sama. Karena itu, teori hak sangat cocok dengan kondisi pemikiran yang demokratis.

Teori hak sekarang ini sudah begitu populer, karena dinilai cukup cocok dengan penghargaan terhadap seseorang atau individu yang mempunyai harkatnya sendiri. Karena itu, manusia individual siapapun tak boleh dikorbankan untuk mencapai tujuan yang lain.

6. Keutamaan

Dalam teori-teori yang sudah dibahas di atas, baik buruk perilaku manusia memang benar dipastikan berdasar dari suatu prinsip atau norma yang berlaku.

Teori keutamaan adalah teori yang memandang akan sikap atau akhlak seseorang. Dalam etika dewasa ini, terdapat minat khusus dalam teori keutamaan sebagai bentuk reaksi atas teori etika yang sebelumnya terlalu berat sebelah dalam mengukur perbuatan dengan menggunakan prinsip atau norma.

Walaupun demikian, dalam sejarah etika, teori keutamaan bukanlah teori yang baru. Sebaliknya, teori ini malah memiliki suatu tradisi lama yang sudah dimulai pada waktu filsafat Yunani kuno.

7. Teonom

Untuk teori yang terakhir ini, perilaku etis memiliki kaitan dengan aspek religi. Diungkap jika karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian dengan kehendak dari Tuhan dan perilaku manusia yang dianggap tak baik (jahat) apabila tak mengikuti perintah dan menjauhi larangan Tuhan.

Panduan perilaku etis terhadap perilaku ini tak didasarkan pada norma bersama yang ada di suatu kelompok, melainkan lebih cenderung kepada panduan yang sudah tersedia di kitab-kitab suci. (Baca juga : Hubungan Etika dan Agama yang Tak Bisa Dipisahkan)

Manfaat Teori Etika

Manfaat Teori Etika

Berbeda dari ajaran moral, etika memang tak ditujukan secara langsung untuk memperbaiki diri manusia itu sendiri. Etika menjadi pemikiran yang sistematis pada moralitas dengan menggunakan macam-macam tata krama dan terdapat beberapa manfaat penting dari teori etika untuk sekarang ini, seperti :
  • Menghadapi pandang moral yang bertentangan. Masyarakat yang sekarang ini ialah masyarakat majemuk atau pluralistik yang baik itu dari agama, suku, daerah dan lain sebagainya, termasuk dalam urusan moralitas. Ada begitu banyak pandangan moral yang bertentangan dan dijadikan pilihan yang mana ingin diikuti, apakah itu dari orang tua, tradisional atau adat desa, hingga moralitas media massa.
  • Menjaga orientasi. Teori etika juga berfungsi agar diri manusia tidak sampai kehilangan orientasinya, sehingga mampu membedakan mana yang hakiki, apa saja yang bisa berubah dan juga bisa mengambil sikap dalam bertanggung jawab.
  • Menghadapi ideologi. Teori etika bisa membantu untuk menghadapi ideologi secara lebih kritis dan objektif, sehingga tak akan mudah terhasut dan tak terlalu naif ataupun ekstrem.
  • Menemukan dasar kepercayaan. Teori etika juga ternyata sangat penting bagi manusia beragama, agar bisa menemukan keyakinan dalam kepercayaan yang dianut, sekaligus juga mengantisipasi dengan tak menutup diri dari kehidupan masyarakat yang tak stagnan (selalu berubah-ubah).


Kritik dalam Teori Etika

Kritik dalam Teori Etika

  • Semua orang memang sudah lumrah dalam melakukan suatu kesalahan. Dalam teori etika, ada begitu banyak hal yang bisa dipergunakan saat akan menyampaikan sebuah kritik, sehingga tak membuat seseorang bisa tersinggung karena cara yang dipergunakan adalah cara yang salah.
  • Hal yang kemungkinan disampaikan apabila ternyata menyinggung atau bahkan menyakiti perasaan yang berhubungan dengan kesalahan yang sudah dilakukan. Maka dari itu, selalu untuk mengawali kata dengan "permisi" atau "maaf", sebelum memulai berbicara, yang lebih lanjut khususnya pada seseorang yang mempunyai kepribadian dependen.
  • Menyampaikan hal yang baik mengenai orang yang akan dikritik juga menjadi cara terbaik dalam mencairkan suasana. Dalam suatu penelitian juga berhasil mengungkap apabila pujian bisa membuat seseorang menjadi lebih kuat dalam menerima kritikan. Sedangkan seseorang yang langsung dikritik, maka butuh setidaknya sebanyak 6 pujian, agar dirinya bisa sembuh dari luka hati dari apa yang telah didapat dari kritik tersebut.
  • Pemberian kritik yang harus bisa didengar, harus bisa disampaikan dengan tegas, padat dan singkat, namun tetap harus menggunakan bahasa yang sopan dan santun, serta lembut, sehingga seseorang yang dikritik tersebut tak menutup diri dari masukan yang diberikan, sekaligus juga hindari untuk memberi sindiran, apalagi secara berlebih, karena hanya akan membuat segalanya menjadi berantakan.
  • Memberikan kritik dalam etika tak boleh dilakukan dengan cara membandingkan orang yang akan dikritik dengan orang yang lain, karena seseorang hanya akan membentengi diri pada saat ia dibandingkan dengan orang lain, sekaligus juga bisa menimbulkan rasa emosi dan psikologis, sehingga sebaik apapun masukkan yang diberikan, tak akan didengarkan dan tak akan memiliki efek positif.
  • Memberi kritik dalam etika juga bisa dilakukan dengan membantu orang tersebut untuk bisa memperbaiki kesalahan yang telah terjadi, sehingga membuktikan jika kritik yang disampaikan bukan hanya sekadar perkataan saja yang bisa membuat individu itu berubah lebih baik, sekaligus juga mengurangi perasaan tersinggung dan bisa membuat individual tersebut memiliki pikiran untuk selalu berpikir positif demi kebaikannya.

0 Komentar Menguak 7 Teori-teori Etika, Manfaat dan Kritiknya

Post a Comment

KEREN! Teman-teman di sekitar kita telah berkomentar sebanyak lebih dari 1000 komentar! Sekarang giliran kalian! Ayo berkomentar!

Back To Top