Habibullah Al Faruq

Portal Situs Edukasi SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi di Jaringan Luas Indonesia

5 Dec 2018

15 Contoh Sikap Nilai Pancasila Sila ke-3 dan Penjelasannya



Nilai yang terkandung di dalam Pancasila, sila ke-3 (sila ketiga), yang berbunyi, "Persatuan Indonesia", sangat penting diterapkan, yang mana wujud dan pengamalan di kehidupan sehari-hari, beserta penjelasan.

Contoh nilai Pancasila sila ketiga di dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak, terlebih yang menyangkut tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia, agar tetap menjadi negara yang bersatu dan berdaulat.

Di dalam sila ketiga ini, nilai sila Persatuan Indonesia sangat dibutuhkan di era sekarang ini. Masalahnya, tidak hanya faktor eksternal yang bisa merusak bangsa saja, namun sekarang banyak faktor internal yang sangat mengganggu kedaulatan negara.

Terkadang, masyarakat di Indonesia mudah terpecah belah oleh persoalan internal. Ini yang sangat berbahaya.

Akan tetapi, mari kita pupuk rasa persatuan dan kesatuan dengan beberapa contoh sila Persatuan Indonesia.

Contoh Nilai Sila Ketiga (Persatuan Indonesia)


Contoh Sikap Nilai Pancasila Sila ke-3
Bendera Indonesia, via videoblocks.com

1. Menjaga Kerukunan Antar Anggota Keluarga


Rumah menjadi tempat di mana kita memulai belajar mengenai kehidupan. Sebelum jauh ke sekolah, kita banyak belajar dari rumah.

Dari rumah, banyak hal yang bisa dipelajari, seperti :
  • Hubungan rumah tangga
  • Kedisiplinan
  • Kepemimpinan
  • Kesopanan
  • Rasa tanggung jawab
  • Pengorbanan
  • Kegigihan
  • dan lain sebagainya

Apabila bisa dikatakan, dari rumah kita belajar banyak hal-hal yang bersifat dasar (fundamental) yang bisa diterapkan kapan saja dan di mana saja.

Aspek-aspek yang dipelajari dari keluarga tentu aspek-aspek yang positif, yang membangun dan mampu memberikan motivasi untuk bisa hidup secara lebih semangat lagi.

2. Tidak Saling Memaksakan Kehendak Setiap Anggota Keluarga


Di setiap keluarga atau rumah tangga, pasti terdapat beberapa anggota, seperti :
  • Ayah, yang bertugas untuk menafkahi keluarga
  • Ibu, yang bertugas untuk mendidik anak
  • Anak, yang bertugas menjalankan dan menaati perintah orang tua

Anggota keluarga tersebut memiliki tugasnya masing-masing yang berbeda, sehingga membutuhkan kerja sama yang baik antara anggota yang satu dengan yang lain.

Jangan untuk memaksakan kehendak. Karena hal yang bersifat memaksa itu tidak akan berakhir dengan manis.

3. Saling Bekerja Sama Antar Anggota Keluarga


Untuk menciptakan rumah tangga yang bahagia dan damai, kerja sama tentu dibutuhkan dalam segala aspek.

Di saat Ayah kesulitan dalam pekerjaannya, setidaknya kita tak mengganggu urusannya atau bahkan mencampuri urusan, karena mencampuri urusan orang lain adalah hal yang salah.

Di saat Ibu kesulitan dalam menjalankan aktivitas rumah tangga, setidaknya membantu meringankan beban atau pekerjaan Ibu, agar kelak juga kita terbiasa.

Maka dari itu, bekerja sama dalam lingkup keluarga sangat penting. Karena, kerja sama dimulai dari diri sendiri dan dari rumah sendiri.

4. Belajar untuk Menghargai Perbedaan Pendapat dalam Kerja Kelompok


Di saat diadakan agenda atau kegiatan belajar kelompok, tentu masing-masing orang atau individu memiliki pola pikirnya masing-masing untuk mengemukakan gagasannya.

Walaupun hal yang dibahas hanya 1 topik, tentu akan memunculkan banyak pola pikir yang cemerlang, namun berbeda, seperti :
  • Siswa pertama yang memiliki pola pikir A
  • Siswa kedua yang memiliki pola pikir B
  • Siswa ketiga yang memiliki pola pikir C
  • Siswa keempat yang memiliki pola pikir D
  • dan seterusnya

Alangkah baiknya bisa belajar untuk mendengarkan dan menghargai perbedaan pendapat yang terjadi kala belajar kelompok.

Paling tidak, kita mengalah untuk urusan kelompok, jangan keegoisan membuat kelompok menjadi hancur dan pertemanan menjadi rusak karena keegoisan masing-masing individu.

5. Mengikuti Upacara dengan Khidmat


Sekolah menjadi tempat belajar kedua bagi anak-anak setelah rumah, di mana siswa akan dididik menjadi pribadi yang cerdas dan gemilang.

Tentu, pribadi yang dididik menjadi orang yang cerdas, bisa diharapkan untuk menjadi pemimpin kelak, baik itu pemimpin keluarga, pemimpin daerah atau bahkan pemimpin negara.

Maka dari itu, cara belajar di sekolah yang baik terutama mengenai persatuan Indonesia, alangkah baiknya bisa mengikuti kegiatan upacara dengan baik.

Tidak hanya dengan baik saja, melainkan dengan khidmat, tenang dan tidak membuat gaduh siswa yang lainnya.

6. Bergaul dengan Siapa Saja


Kita dari kecil tak pernah diajarkan untuk memilih-milih teman, karena semua orang itu sama, derajatnya sama.

Semua boleh bergaul dengan siapa saja, baik dengan yang jabatannya tinggi, orang kaya-raya, orang sederhana, orang biasa-biasa saja dan lain sebagainya, semua berhak untuk saling berteman.

Tidak ada yang membatasi dengan siapa bergaul.

Akan tetapi, jika ternyata teman itu pikirannya kotor dan nakal, jauhilah sifat buruk (sifat tercela), jangan jauhi orangnya.

7. Menggunakan Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia


Indonesia menjadi negara yang sangat kaya raya, tidak hanya alamnya saja yang melimpah ruah, melainkan kebudayaan dan bahasanya juga melimpah.

Dengan menggunakan bahasa daerah, itu sama saja kita ikut serta melestarikan kebudayaan daerah masing-masing dan tetap digunakan hingga anak cucu kelak, agar anak cucu kita kelak juga mengenal bahasa daerah yang digunakan.

Sementara itu, dengan menggunakan bahasa Indonesia, menjadi bahasa nasional dan bahasa persatuan yang sangat bagus diterapkan dalam acara-acara yang formal.

Akan tetapi, apabila bertemu dengan orang baru, yang belum tentu tahu bahasa daerah di Indonesia, bisa menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dan saling menyapa satu sama lain.

Jadi, jangan bingung soal bahasa. Karena Indonesia memiliki banyak bahasa yang siap digunakan.

8. Dalam Bermasyarakat, Mementingkan Kepentingan Bersama


Di dalam suatu daerah atau bahkan lebih kecilnya suatu desa, pasti pernah mengalami masalah yang harus diselesaikan bersama.

Masalah tersebut terkadang akan sulit terpecahkan jika banyak pihak yang tidak setuju dan kurang open-minded dalam berpikir menyelesaikan masalah.

Semisal, di dalam desa tersebut ada 2 hal yang harus dilakukan, memperbaiki jalan yang rusak atau membangun tempat wisata.

Jika mementingkan kepentingan bersama, seharusnya lebih memilih untuk memperbaiki jalan yang rusak. Mengapa demikian?

Karena jalan merupakan akses penghubung dari desa yang satu ke desa yang lain dan seluruh masyarakat menggunakan fasilitas tersebut.

Setelah itu, apabila kondisi jalan sudah baik dan lancar, maka realisasikan hal yang kedua, yakni barulah membangun tempat wisata yang potensial.

Tempat wisata yang potensial adalah tempat wisata yang mampu memberikan pemasukan bagi desa itu sendiri dan bisa dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi bagi khalayak ramai.

Jadi, semua itu ditentukan berdasarkan skala prioritas. Mana yang lebih penting, dijalankan terlebih dahulu.

9. Mengadakan Kegiatan Siskamling


Kegiatan siskamling (sistem keamanan lingkungan) harus bisa diterapkan dan dijalankan dengan baik dan benar demi menjaga persatuan Indonesia.

Salah satu contoh dari siskamling adalah kegiatan ronda setiap malam. Ronda tersebut berguna untuk mengantisipasi adanya kejahatan yang dilakukan di malam hari.

Dengan adanya agenda atau kegiatan rutin siskamling tersebut, maka masyarakat akan merasa aman terhadap tempat tinggalnya dan aset-aset berharga mereka.

Tidak hanya mampu menambah bekal keamanan saja, kegiatan siskamling juga bisa mempererat hubungan atau tali silaturahmi antar warga yang tengah bertugas.

Dengan begitu, satu sama lain bisa saling mengenal, bisa saling bercengkerama dan saling tertawa bersama, sembari menjaga desa, hingga larut malam.

10. Tidak Mudah Bertengkar di dalam Rumah


Di dalam rumah, pasti selalu ada saja hal-hal kecil yang mampu menyulut emosi beberapa anggota keluarga.

Terkadang, hal-hal sepele yang bisa membesar tersebut terjadi karena kesalahpahaman atau kurang bisa menerima situasi satu sama lain.

Alangkah baiknya, apabila terjadi masalah di dalam rumah, yang menyangkut rumah tangga, diselesaikan secara baik-baik saja.

Karena, keluarga menjadi percontohan yang paling pertama bagi sang anak. Jika menyikapi masalah dengna baik, tentu sang anak akan mengikutinya dan menjadi kebiasaan.

Jangan apa-apa diselesaikan dengan emosi. Emosi tak akan menyelesaikan masalah, melainkan malah bisa menambah masalah.

11. Menghindari Tawuran


Tawuran bisa dikatakan kegiatan yang sia-sia, di mana taruhan dari tawuran tersebut adalah nyawa.

Nyawa melayang dengan hal-hal konyol. Sangat miris rasanya.

Akan tetapi, ada banyak alasan siswa melakukan tawuran dan jika dilihat, alasan tersebut terlihat sepele, seperti :
  • Diejek
  • Tidak terima temannya dianiaya
  • Bercanda yang berlebihan

Yang mana, padahal alasan tawuran tersebut masih bisa diterima dengan akal sehat, yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Tidak perlu harus melakukan tawuran. Tawuran itu terlihat begitu menggelikan. Hanya masalah sepele, taruhannya malah nyawa. Sangat berbahaya dan harus dihilangkan!

12. Tidak Berkelompok Tanpa Adanya Maksud atau Tujuan


Berkelompok sebenarnya sah-sah saja, asal ada maksud atau tujuan tertentu yang mana tujuan tersebut positif bagi kepentingan bersama.

Banyak contoh berkelompok dalam hal positif, seperti :
  • Belajar kelompok
  • Rapat
  • Sharing ilmu
  • dan lain sebagainya

Dengan berkelompok itulah, kita mendapatkan jauh lebih banyak tentang wawasan karena bisa saling bertukar pikiran satu sama lain.

Sementara itu, ada juga yang berkelompok tanpa adanya maksud atau tujuan, seperti :
  • Teman nge-game
  • Teman nongkrong
  • Teman main
  • dan lain sebagainya

Sebenarnya, hal tersebut boleh saja, asal jangan terlalu keseringan melakukan hal yang kurang berfaedah.

Alangkah baiknya, ganti aktivitas dengan kegiatan yang bermanfaat, menambah ilmu dan mampu mengasah keterampilan di bidang yang disukai.

13. Sikap Saling Toleransi atau Mudah Memaafkan


Di Indonesia memang banyak perbedaan, baik itu di bidang agama, ras, suku, jenis kelamin dan lain sebagainya.

Perbedaan tersebut tercipta bukan untuk saling bersaing dan mejatuhkan satu sama lain, melainkan digunakan untuk wujud berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Jika tidak ada perbedaan di dalam hidup ini, hidup tentu terasa akan hambar, monoton, karena bertemu dengan orang yang itu-itu saja.

Dengan perbedaan juga mengajarkan kepada kita arti penting toleransi dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.

14. Tidak Terlalu Membanggakan Bangsa Lain


Sekarang ini, di era globalisasi yang kian marak, banyak anak-anak muda yang terlalu fanatik atau membanggakan bangsa lain.

Padahal, bangsa Indonesia tak kalah seru dengan bangsa lain, di mana Indonesia memiliki banyak kelebihan :
  • Orangnya yang ramah
  • Sumber daya alam melimpah
  • Potensi wisata alam di mana-mana
  • dan lain sebagainya

Walaupun memang ada 1 atau 2 budaya dari bangsa lain yang membuat kita kagum, cobalah untuk melakukan filter (penyaringan), apakah budaya mereka bisa kita terima atau tidak.

Jika memang baik, maka terimalah, namun jangan terlalu fanatik. Jika buruk, tinggalkanlah, karena Indonesia lebih dari yang engkau tahu.

15. Tidak Merendahkan Bangsa Sendiri


Terkadang, jika kita melihat dan analisis lebih dalam, masih ada saja orang-orang yang suka membandingkan negara-negara di dunia.

Misalnya, banyak yang membandingkan beberapa hal antara Indonesia dengan negara lain, seperti :
Makanan
  • Fashion atau busana
  • Kenyamanan saat tinggal
  • Kecanggihan teknologi
  • dan lain sebagainya

Seperti yang sudah kita ketahui, Indonesia itu negara yang berkembang, yang sedang berusaha menjadi negara maju.

Jika membandingkan Indonesia dengan negara maju, tentu Indonesia kalah karena pengelolaan di dalam masih kurang terstruktur.

Akan tetapi, apabila membandingkan Indonesia dengan negara berkembang yang lain, Indonesia mampu bersaing.

Bahkan, Indonesia sekarang memiliki banyak wirausahawan dan mulai menyumbang startup unicorn, serta pemikiran orang-orang Indonesia yang mulai open-minded, sehingga mampu mendongkrak Indonesia dalam membantu menjadi negara maju.

Jadi, sesekali jangan pernah remehkan Indonesia. Walau sekarang kita bukan apa-apa, suatu saat kita akan berbicara banyak kepada dunia.

0 Komentar 15 Contoh Sikap Nilai Pancasila Sila ke-3 dan Penjelasannya

Post a Comment

KEREN! Teman-teman di sekitar kita telah berkomentar sebanyak lebih dari 1000 komentar! Sekarang giliran kalian! Ayo berkomentar!

Back To Top